Transformasi Makna Dengan Chunking

Artikel ini masih merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya mengenai mengefektifkan kritik. Pada artikel kali ini saya akan membahas salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengefektifkan kritik. Pada artikel sebelumnya telah diulas mengenai reframing. Melakukan reframing merupakan suatu mekanisme menempatkan “frame” baru pada suatu pengalaman sehingga merubah arti dari pengalaman tersebut.

Salah satu contoh yang dapat saya berikan adalah mengenai seorang klien yang mengeluhkan kondisinya karena diberhentikan bekerja dari satu bank swasta. Memang benar situasinya memberikan ketidaknyamanan untuk hidup keseharian jika ditinjau dari segi finansial. Namun hal itu juga berarti ia memiliki lebih banyak waktu yang dapat digunakan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Hal ini mungkin terdengar sederhana atau klise, namun membawa perbedaan respon yang sangat signifikan. Ia tidak lagi menyesali kondisinya dan mulai mensyukuri karena kini memiliki kebebasan dalam mengatur waktu. Dulu ia sangat memiliki keterbatasan waktu, berangkat kerja jam 6 pagi dan baru kembali ke rumah jam 7 malam (paling cepat). Karena ia kini tidak lagi harus bekerja di bank tersebut, maka ia tidak lagi harus menjalani pola hidup demikian. Tentunya ketika pemikirannya berubah dari yang tdainya menyesali menjadi mensyukuri, maka responnya pun turut berubah. Pemikirannya kini lebih terfokus pada berbagai cara untuk mencari alternatif solusi guna memanfaatkan waktunya seoptimal mungkin. Memang hal ini tidak lepas dari konsekuensi. Tapi tidakah semuanya memang demikian, selalu ada harga yang harus dibayar untuk suatu perubahan. Ia harus mempelajari skill baru guna memperoleh pendapatan yang lebih besar. Setelahnya ia mengatakan bahwa penghasilannya naik menjadi 3 kali lipat dari sebelumnya dan waktu kerjanya lebih singkat dari sebelumnya. Itu semua ia peroleh dengan mengajar privat untuk siswa sekolah.

Terlepas dari apakah menurut anda profesi klien saya yang baru lebih baik atau tidak, contoh di atas menerangkan dengan cukup jelas bahwa proses reframing sangat berpengaruh terhadap respon yang dihasilkan setelahnya. Aktifitas yang dilakukan setelahnya merupakan manifestasi dari pemikiran. Sehingga sangat penting kiranya untuk mendapatkan perspektif berpikir yang optimal. Dan ini berarti penguasaan untuk melakukan reframing menjadi sangat penting.

Salah satu metode untuk melakukan reframing adalah chunking. Secara bahasa chunking dapat berarti pemotongan atau potongan dari sesuatu. Namun chunking yang saya maksudkan di sini adalah suatu proses transformasi makna ke konteks yang berbeda, dapat lebih besar (chunk up), dapat lebih kecil (chunk down) atau serupa (chunk laterally).

Chunk up adalah suatu proses transformasi makna ke konteks yang lebih luas dari yang sebelumnya. Ambil contoh misalnya mobil. Anda dapat mengelompokan mobil bersama motor, sepeda, pesawat, kapal dan lainnya ke kelompok yang lebih besar yaitu kendaraan, karena mobil merupakan salah satu jenis kendaraan.

Chunk down adalah suatu proses transformasi makna ke konteks yang lebih sempit dari yang sebelumnya. Masih pada contoh mobil, anda dapat memecahnya menjadi ban, pintu, kaca, rem, jok, bagasi dan lainnya.

Sementara chunk laterally merupakan transformasi makna ke konteks yang serupa namun berbeda dari yang sebelumnya. Contohnya naik mobil dapat diibaratkan seperti naik delman, karena keduanya sama-sama menggunakan sarana transportasi untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Berkenaan dengan kritik, kritik yang kurang efektif umumnya merupakan bentuk tranformasi kenyataan yang sebenarnya ke konteks yang lebih luas (chunk up). Contohnya, jika ada seorang siswa yang datang terlambat ke sekolah dan gurunya kemudian mengatakan, “Kamu selalu datang terlambat ke sekolah!!!” Saat si guru memberikan kritik, ia melupakan fakta bahwa keterlambatan si siswa tidak selalu sama, bahkan mungkin pernah satu hari ia datang ke sekolah tidak terlambat. Kata-kata seperti “selalu”, “tidak pernah” dan lainnya dalam terminologi NLP disebut sebagai universal quantifiers. Pola kata universal quantifiers cenderung memberikan generalisasi terhadap sesuatu.

Ada kalanya untuk lebih mengefektifkan kritik, selain merubahnya ke bentuk pertanyaan, si guru juga perlu melakukan proses kebalikannya yaitu chunk down. Sehingga bentukan kritiknya mungkin dapat menjadi seperti, “Tahukah kamu bagamana caranya agar kamu datang ke sekolah lebih awal seperti yang kamu lakukan pada hari rabu yang lalu?” (bentukan yang lain juga dimungkinkan).

Contoh yang lain misalnya seorang siswa dilabel memiliki “hambatan belajar” (yang mana merupakan suatu bentuk yang cukup jelas dari “problem frame“). Guna melakukan reframing maka anda perlu mengambil kata “belajar” kemudian melakukan chunk down sehingga menjadi lebih spesifik lagi, misalnya “memasukan informasi”, “merepresentasikan informasi”, “mencatat informasi”, “mengingat informasi” dan lainnya. Tentu “hambatan mencatat” memunculkan respon yang sangat berbeda dibandingkan “hambatan belajar”. Anda pun dapat pula mencari intensi dari suatu kondisi, dengan kata lain melakukan chunk up. “Kegagalan” dapat di chunk up menjadi “feedback“, “tidak mengeset tujuan”, “tidak mengacu pada rencana” dan lainnya. Sementara untuk melakukan chunk laterally anda dapat menganalogikan “hambatan belajar” seperti “program komputer yang tidak bekerja sebagai mana mustinya (error)”. Sehingga respon selanjutnya adalah mencari di mana letak kesalahan “program” tersebut.

Kata benda pun juga dapat pula ditransformasi artinya menjadi bentuk yang lebih sederhana. Contohnya ketika seseorang berbicara kepada saya “program pelatihan ini terlalu mahal”, maka saya akan melakukan chunk down dengan merespon, “Sebenarnya metode penyampaiannya, modulnya, tempatnya dan konsumsinya sama seperti program pelatihan lainnya, hanya saja materinya, teknik penyampaiannya, follow up program-nya, after sales service-nya, dan konsultasi tambahan lainnya memang membutuhkan tambahan biaya untuk menjamin pemahaman para peserta.” Ketika seorang klien yang berkata kepada saya, “Saya tidak menarik (sambil menunduk dan suara berat)” saya pun merespon dengan berkata, “Apakah tangan kamu, kaki kamu, leher kamu, rambut kamu dan lainnya yang menurut kamu kurang menarik?” Melakukan hal ini memicu individu untuk menantang keyakinannya dengan mengarahkan perhatiannya ke arah yang lebih dalam.

Saya tidak dapat mengatakan apakah chunk up, chunk down atau chunk laterally yang lebih baik dalam mentransformasi arti. Sebaliknya saya sangat merekomendasikan agar anda menggunakan sebaik mungkin, tentu diselaraskan dengan tujuan yang ingin diperoleh.

Jika dianalisa dari sudut pandang teori logika, mencari analogi merupakan suatu bentuk berpikir secara abductive. Chunk up merupakan bentukan dari inductive thinking. Sementara bentukan chunk down merupakan bentukan dari deductive thinking. Ketika seseorang hanya mampu berpikir secara inductive atau deductive saja, sebenarnya ia memiliki kekakuan dalam cara berpikirnya. Abductive thinking di lain pihak dapat menghasilkan kreatifitas dan membawa seseorang pada pemahaman yang lebih mengenai realita.

Saya sangat paham mungkin anda berpikir hal ini sebagai sesuatu yang sederhana. Anda sangat benar. Memang hal yang saya uraikan kali ini cukup sederhana namun memiliki dampak yang sangat signifikan. Harapan saya kini anda telah menguasai berbagai metode untuk melakukan transformasi makna sehingga mendapatkan respon yang lebih baik, bagi orang lain maupun bagi diri anda sendiri.

Transformasi Makna Dengan Chunking

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top