Belum lama ini di harian Kompas terpampang ilustrasi foto yang sangat menarik perhatian saya. Di foto tersebut nampak ribuan orang mengikuti suatu ujian di kawasan Senayan. Tepat di bawah ilustrasi tersebut tersaji keterangan bahwa foto tersebut diambil ketika pelaksanaan ujian CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) dengan jumlah peserta yang mengikuti ujian 4.970 sementara lowongan yang tersedia hanya 555 untuk berbagai jenjang pendidikan mulai dari D3, S1 dan S2. Membaca hal ini, pemikiran saya langsung terhubung dengan fakta lain, tingginya angka pengangguran dan rendahnya angka enterpreneurship negara ini. Ironisnya negara ini memiliki sumber daya yang sangat bagus, yang telah atau pun belum diolah (oleh bangsa asing
). Pertanyaan yang mungkin muncul di benak anda mungkin serupa dengan yang hadir di pikiran saya, Apakah hal ini disebabkan karena mereka semua mencari kepastian? Artikel ini ditujukan untuk membahas lebih jauh mengenai fenomena ini.
Dalam berpikir saya selalu mencoba mengenengahkan berbagai asosiasi yang berhubungan dengan pokok pemikiran. Untuk tujuan tersebut saya biasa melakukannya dengan menggunakan software MindManager Pro X5 dari Mindjet. Dengan melakukan chronological thinking saya mendapati banyak hal terhubung dengan fenomena ini, salah satunya adalah proses pembelajaran yang dilalui oleh individu bersangkutan, mulai dari sekolah, perkuliahan dan yang lainnya. Banyak (namun tidak semua) individu mendapatkan pesan melalui proses pembelajaran yang dilaluinya bahwa kepastian adalah segalanya. Sedemikian rupa sehingga di setiap saat, di setiap tempat hal yang terpenting dan yang paling dicari adalah kepastian.
Pesan tentang kepastian disampaikan secara langsung maupun tidak langsung melalui berbagai praktek keliru yang terjadi di dunia pendidikan, sebut saja mulai dari praktek jual-beli kursi atau berbagai hal unik lainnya seperti praktek jual beli bocoran soal. Buat apa belajar kalau belum pasti lulus mungkin demikian yang ada di pikiran mereka. Wajar saja jika seorang siswa yang nilainya ujiannya tiarap bisa masuk ke satu sekolah (yang katanya unggulan) hanya dengan memberikan kewajiban lain. Setelahnya siswa bersangkutan dapat bersekolah seperti siswa lainnya yang melalui proses penyaringan dan setelahnya cerita tersebut menjadi rahasia umum yang diketahui semua komponen sekolah, guru, siswa, karyawan dan lainnya. Pada akhirnya Sama-sama tahu lah.
Harap diingat saya tidak anti terhadap uang. Bagi saya uang adalah alat untuk memudahkan menjalani kehidupan. Saya pun tidak menyangkal bahwa sebagian besar orang (walau tidak semua) membutuhkan uang. Namun dengan mengedepankan praktek pencarian uang kilat seperti yang diilustrasikan di atas, pesan dan teladan apa yang turut diajarkan pada siswanya? Hal ini mulai terindikasi ketika banyak (tidak semua) siswa tidak lagi menekankan pada pentingnya pemahaman namun terjebak pada kiat-kiat kilat untuk mendapatkan simbol dari pemahaman. Mulai dari melakukan berbagai kecurangan dalam pembelajaran hingga mengikuti proses belajar tambahan di luar sekolah (biasanya dilengkapi dengan jaminan ???? ) untuk bisa lulus ujian. Semuanya hal ini mencoba memberikan berbagai kepastian. Buat apa susah-susah berpikir tentang kerja, kalau sudah pasti ada uang di depan mata, Buat apa susah-susah belajar, kalau ikut bimbingan X, dijamin lulus.
Pola serupa berlanjut pada jenjang pendidikan selanjutnya. Belajar kilat (pemahaman nanti saja), mendapat IP bagus, mencari pekerjaan yang memberikan kompensasi finansial tinggi tanpa memperdulikan minat dan yang terpenting (katanya) adalah asuransi kesehatan, parameter utama yang tidak bisa diabaikan dalam memilih pekerjaan. Sikap mental lebih baik menjadi makelar dibandingkan menjadi produsen, seperti telah mendarah daging pada sebagian (tidak semua). Keseluruhan rangkaian pola tersebut diyakini bisa memberikan kepastian dalam hidup.
Namun coba pikirkan lagi, apakah ada yang dimaksud dengan kepastian? Atau jangan-jangan hal ini merupakan salah satu bentukan ignorance terhadap berbagai realita sehingga memberikan ilusi pasti. Berbagai pendekatan sains modern pasca Einstein, membuktikan bahwa semua yang terjadi di sekitar masih merupakan probabilita. Matematika sebelum era Einstein ditujukan untuk menghitung kepastian sementara setelahnya lebih diarahkan untuk menghitung probabilita. Setiap manusia hidup di dalam samudra probabilita hingga ia menentukan pilihannya dari berbagai probablita tersebut, barulah terjadi realita bagi dirinya.
Kembali ke berbagai contoh di atas, banyak individu telah terhipnosis sekian lama hingga benar-benar meyakini keberadaan kepastian dalam hidup. Contoh tentang hal ini misalnya keyakinan asuransi dapat membuat semuanya baik-baik saja. Dengan adanya asuransi maka saya menjadi bebas bergerak, karena ketika ada hal yang salah maka ada asuransi yang melindungi saya. Pernyataan tersebut merupakan pernyataan yang sangat lemah. Untuk mengujinya anda cukup melakukan hal berikut; adakah seorang yang sedang menderita sakit yang memiliki asuransi kesehatan, tidak mengalami kemudahan berkenaan dengan kondisinya, misalnya asuransi yang bermasalah atau alasan lainnya; adakah seorang yang tidak memiliki asuransi, namun kesehatan selalu terjaga (karena bagaimanapun juga asuransi kesehatan ditujukan untuk menjamin kesehatan seseorang). Hal ini merupakan awal kekeliruan yang sebenarnya, ketika manusia melakukan aktifitas secara ceroboh dan tidak lagi bertanggung jawab sepenuhnya atas berbagai hal yang dilakukan. Asuransi kesehatan justru diartikan sebagai legalitas untuk makan atau melakukan aktifitas yang beresiko tinggi bagi kesehatan. Sebebas-bebasnya tanpa batas, karena ketika sakit selalu ada jalan keluarnya, asuransi. Pada kondisi ini, asuransi kesehatan justru merupakan the silence killer.
Semenjak era fisika quantum semakin banyak misteri alam semesta yang terjawab yang disebabkan salah satunya oleh perubahan paradigma berpikir. Semua yang terjadi di alam semesta semua masih merupakan probabilita, sains modern sebenarnya menghitung mengenai probabilita dibandingkan kepastian. Realita terjadi ketika manusia memilih satu dari berbagai pilihan tersebut. Memaksakan solusi berupa kepastian di alam ketidakpastian menyebabkan sering kali terjadi tumbukan antara persepsi dan realita yang berujung pada kekecewaan, seperti yang terjadi pada siswa yang mengikuti bimbingan belajar dengan jaminan, hanya untuk mendapati pada akhirnya tidak mendapatkan hasil yang diharapkan. Lagi pula alam semesta yang sangat besar bekerja dengan prinsip ketidakpastian, kok ada sekelompok manusia dalam lingkup sangat kecil (bimbingan belajar) memberikan kepastian, sementara mereka berada di alam semesta. Hal itu serupa dengan seorang yang tidak percaya dengan hukum gravitasi dan berharap dapat mengambang ketika terjun dari gedung berlantai 27
. Logika Aristotelian yang menyajikan kepastian yang mengungkapkan A atau non-A kini tidak lagi valid. Sebagai penggantinya kini tersaji model yang lebih elegan untuk menjelaskan alam semesta, Non-Aristotelian, meaningful atau meaningless, di mana informasi yang meaningfull dapat dibedakan menjadi benar, salah atau belum dapat diuji sementara informasi yang meaningless selamanya tidak dapat diuji.
Sebelum era fisika quantum (Heisenberg, de Broglie dan lainnya), suatu hal hanya dapat berwujud sebagai gelombang atau partikel namun tidak keduanya. Setelah era fisika quantum ilmuwan menemukan suatu fenomena dualisme antara gelombang-partikel. Singkatnya ketika anda memperhatikannya ia berpola sebagai partikel dan ketika anda tidak memperhatikannya ia berpola sebagai gelombang. Artikel ini tidak ditujukan untuk membahas lebih dalam mengenai fenomena ini, melainkan lebih diarahkan pada implikasikanya pada kehidupan keseharian.
Di dalam otak terdapat suatu bagian yang disebut sebagai hypothalamus. Hypothalamus menghasilkan neuropeptida, suatu zat kimia yang membawa pesan-pesan terkait dengan emosi yang dialami individu. Di setiap sel terdapat jutaan reseptor untuk menerima neuropeptida yang dibawa oleh aliran darah. Ketika telah diterima di sel, maka sel dapat mengetahui mengenai emosi yang sedang terjadi pada individu tersebut dan melakukan respon terkait dengannya. Mekanisme penerimaan neuropeptida oleh reseptor dapat dianalogikan dengan lubang kunci dan anak kunci. Adapun hal yang menarik untuk diperhatikan ternyata neuropeptida dapat mempengaruhi tubuh dan otak. Ketika ia mempengaruhi tubuh ia bertindak sebagaimana layaknya hormon dan ketika mempengaruhi otak ia bertindak sebagaimana layaknya neurotransmitter, zat kimia yang mengalir di antara neuron. Hypothalamus sangat dipengaruhi oleh keyakinan seseorang. Sehingga dengan demikian keyakinan seseorang tidak hanya mempengaruhi pikirannya namun juga tubuhnya melalui mekanisme neuropeptida tersebut. Hal ini menjelaskan mengapa pada individu yang optimis kesehatannya lebih baik dan lebih cepat sembuh sekiranya sakit dibandingkan dengan mereka yang pesimis. Sehingga pemisahan ‘tubuh’ dan ‘pikiran’ tidak lagi valid, sebagaimana Einstein menyatakannya secara elegan, ‘space-time’ dan bukan ‘space’ dan ‘time’. Perubahan ini membuka peluang untuk menyelesaikan berbagai masalah yang sebelumnya tidak dapat diterangkan dengan pendekatan Aristotelian.
Dengan kata lain saat ini sebenarnya dalam keseharian setiap manusia berada dalam suatu kontinum dan bukan lagi hanya berada pada salah satu kutub. Di setiap orang baik, pasti ada keburukannya, sehingga individu tidak bisa lagi melabel seseorang sebagai individu baik atau buruk (terlepas dari profesinya). Setiap penciptaan manusia sebaik apapun pasti ada kelemahannya. Di setiap aktifitas menusia sebaik apapun pasti ada kelemahannya. Setiap pria memiliki aspek kewanitaan, demikian pula sebaliknya. Hal ini menyebabkan kepastian tidak lagi valid, karena disetiap kepastian pasti ada ketidakpastian dan demikian pula sebaliknya.
Sehingga jelaslah sudah bahwa semua yang terjadi dalam hidup merupakan suatu ketidakpastian. Mencoba memaksakan suatu kepastian di alam yang tidak pasti hanya hanya memberikan kesulitan-kesulitan dalam hidup. Bentukan kepastian terlalu menyederhanakan kompleksitas alam semesta sebagaimana berbagai rumus yang tertulis di berbagai buku pelajaran. Adakalanya alam semesta bergerak tidak sesuai dengan rumus yang ditulis.
Harapannya anda dapat semakin memahami bahwa semua yang terjadi dalam hidup adalah suatu ketidakpastian, dan itulah yang membuat hidup menjadi misterius. Tidak ada satu pun yang dapat mengetahui dengan pasti hal yang terjadi pada hari esok atau keesokannya lagi. Misterius dalam hidup itulah yang sebenarnya membuat hidup menarik untuk dihidupi.