Mengendalikan TV Dengan Pikiran (Bagian ke-1 dari 2 bagian)

(Artikel ini adalah artikel pertama dari dua artikel. Pada artikel pertama, saya hanya akan menguraikan berbagai aspek negatif dari menonton TV. Sementara artikel kedua akan lebih berfokus pada cara cerdas menonton TV.)

Beberapa waktu yang lalu saya membaca di harian Kompas mengenai himbauan untuk mengurangi aktifitas menonton TV. Tulisan itu mengindikasikan bahwa masyarakat kini telah semakin pintar sehingga mampu mengetahui sesuatu yang berdampak buruk. Hal ini juga memicu saya untuk menulis artikel berkenaan dengan aktifitas menonton TV.

Kini kita hidup di era informasi di mana setiap saat kita selalu di banjiri oleh jutaan informasi berbagai jenis. Saat ini ketika anda dituntut untuk mengambil keputusan secara cepat dan tepat, seharusnya sudah tidak ada lagi ruang untuk kebingungan karena semua pertanyaan dapat segera didapatkan jawabnya.

Namun tahukah anda, situasi yang menyulitkan individu dalam mengambil keputusan bukan hanya saat kekurangan informasi, melainkan juga ketika terlalu banyak informasi, paralysis by analysis. Sehingga selain memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan informasi, penting juga untuk dipikirkan informasi yang kemudian akan anda gunakan. Dengan demikian anda menjadi lebih bijaksana dalam menggunakan sumber daya pikiran dengan hanya memasukan informasi yang benar-benar bermutu. Singkatnya, ketika anda tidak mengendalikan pikiran anda maka pihak lain yang akan melakukannya untuk anda.

Pada bagian berikut saya uraikan beberapa dampak negatif dari menonton TV.

Dampak Negatif Menonton TV

Tidak Memberikan Peningkatan Intelektualitas
Marilyn vos Savant, seorang perempuan pemegang rekor dunia untuk IQ tertinggi, menyatakan pada bukunya bahwa TV mereduksi kemampuan pikiran individu untuk melakukan pemikiran rasional. Hampir semua tayangan TV merupakan bentuk penyederhanaan (bahkan pada beberapa kasus terlalu menyederhanakan) realita yang sebenarnya. Hal ini terjadi ketika TV mengarahkan perhatian pemirsa pada aspek realita yang terbatas secara binary, baik atau buruk, konyol atau serius, sedih atau gembira, berdosa atau berpahala, dan masih banyak lagi.

Sangat disayangkan belakangan ini sebagian besar tayangan TV memiliki kandungan ilmu pengetahuan yang sangat rendah. Sebagian besar tayangan yang disajikan lebih mengarah pada berbagai hal yang sebenarnya tidak membawa nilai tambah bagi pemirsanya. Bahkan pada beberapa kasus, ada juga berbagai tayangan yang hingga menyebabkan penyalahan makna sebenarnya, misleading. Tentu saja hal ini sangat berimbas di kehidupan karena tindakan adalah manifestasi dari pemikiran, sementara pemikiran sangat ditentukan pada informasi yang diproses. Secara sederhananya, jika informasi yang diterima salah, maka tentu tindakan yang dilakuan juga salah. Ketika kemudian hadir pemahaman seperti, “Jika kamu melakukan ini, kamu akan begini. Jika kamu melakukan itu, akan begitu.

Kondisi ini semakin diperburuk oleh kenyataan bahwa TV telah masuk hingga ke berbagai pelosok. Memang ada nilai positifnya, membuat penyebaran informasi lebih efektif. Namun jika informasi yang disebarkan merupakan informasi yang misleading, dapatkah anda membayangkan dampak apa yang akan terjadi. Saya akan memberi anda satu alternatif di antaranya, kesalahan berjamaah. Hal seperti ini sudah banyak terjadi, baik di dalam maupun luar negeri. Berbagai polling dan tayangan lainnya berkenaan dengan invasi Amerika atas Irak, contohnya.

Menghambat Dalam Pencapaian Tujuan

Saya menulis bagian ini dengan asumsi dasar bahwa anda telah mengetahui tujuan yang ingin anda capai. Dalam hidup tentu anda memiliki berbagai tujuan yang anda ingin capai, apakah itu tujuan jangka panjang/jangka pendek, intelejensi/materi atau lainya. Untuk mencapai semua tujuan tersebut tentu dibutuhkan kerja. Namun tentunya sekadar kerja, melainkan kerja yang serba tepat, tepat waktunya, tepat porsinya, tepat caranya dan tepat ke tujuannya.

Semua aktifitas yang dilakukan individu tergantung sepenuhnya pada informasi yang ditangkapnya. Menghabiskan waktu menonton film tragedi kehidupan yang sangat pahit dan getir (berlebihan???) dapat mempengaruhi emosi anda. Informasi yang anda terima mempengaruhi mood anda. Mood sangat menentukan bagaimana seseorang melakukan aktifitasnya. Ketika anda berada pada mood posistif, performa kerja anda pun akan positif. Namun demikian pula sebaliknya, ketika anda berada pada mood yang negatif, tentu akibatnya performa kerja kurang optimal. Sehingga tidak berlebihan jika dikatakan bahwa informasi yang anda terima mempengaruhi hasil tindakan anda.

Memahami (benar-benar) hal ini dapat membuat anda dapat bertindak jauh lebih efektif lagi, karena kini tidak hanya anda dapat mengendalikan informasi yang masuk. Dengan informasi yang tepat, anda menjadi lebih tahu apa yang harus dilakukan, kapan aharus melakukan, bagaimana cara melakukan dan lainnya. Sebagai tambahan, anda pun kini dapat selalu memastikan bahwa anda berada pada mood yang positif, dengan mengendalikan sepenuhnya atas informasi yang masik ke pikiran.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana dengan tayangan TV yang anda tonton setiap hari? Pernahkah anda menimbang-nimbang apakah tayangan yang anda tonton benar-benar membantu untuk mencapai tujuan atau hanya sekedar mempermainkan emosi anda. Pernahkah anda berpikir apa hubungannya berita perceraian artis X dengan pencapaian tujuan anda. Tidakah merupakan hal yang sangat lucu mengetahui bagaimana seseorang membiarkan sepenuhnya orang lain yang mengendalikan emosinya, ketika setiap hari emosinya tergantung sepenuhnya pada baik atau buruknya akhir sinetron yang ditayangkan.

Kembali lagi, seperti yang telah saya uraikan di atas, mengetahui hal ini dapat membuat anda lebih bebas lagi. Lebih bebas dari jeratan kendali produser yang selalu memainkan emosi anda melalui tayangan yang dibuatnya. Sudah tiba saatnya bagi anda untuk melangkah keluar dan memegang kendali sepenuhnya atas pencapaian anda. Dan saat itu adalah….SEKARAAAAAAAAANG!!!

Pemicu Pemborosan Waktu

Mungkin anda yang beranggapan bahwa menonton TV bisa menjadi aktifitas pengisi atau aktifitas yang dapat dilakukan sementara melakukan aktifitas yang lain. Misalnya menonton TV sambil makan, melakukan pekerjaan rumah atau lainnya. Atau mungkin, jika anda masih bersekolah atau kuliah, anda menonton TV sambil belajar. Apakah hal itu dapat dibenarkan?

Dulu saya menyakini bahwa menonton TV merupakan aktifitas sambilan. Sebelumnya saya terbiasa makan sambil menonton TV. Ketika makan, sebelumnya saya menyalakan TV untuk kemudian mencari tayangan yang sekiranya menarik. Setelahnya saya baru melanjutkan dengan menyantap hidangan. Hampir di setiap saat, urutannya serupa. Sangat otomatis, hingga hampir menyerupai robot. ?

Ketika tayangan telah selesai, saya baru menyadari bahwa saya telah selesai makan. Padahal saya telah selesai jauh sebelum tayangan berakhir (durasi rata-rata makan 20 menit, durasi rata-rata tayangan 1 jam). Tentu akibatnya banyak waktu yang hilang dengan percuma. Belum lagi hampir semua tayangan yang saya tonton sambil makan bukan tayangan yang sebenarnya saya nantikan. Artinya, secara suka rela, tanpa paksaan dari pihak manapun, saya membiarkan satu aktifitas (yang tidak direncanakan) menginterupsi aktifitas lain yang telah saya rencanakan sebelumnya. Biasanya setelahnya muncul rasionalisasi di pikiran saya yang mengatakan, “Anggap saja istirahat.” ?

Anda mungkin juga pernah mengalami hal yang serupa. Anda baru menyadari bahwa telah selesai makan justru ketika tayangan berakhir. Bahkan pada beberapa kasus, ketika satu tayangan berakhir, anda terbawa untuk terus melanjutkan mencari chanel lain yang sekiranya juga menarik bagi anda. Apakah anda menyadari batapa banyak waktu yang hilang akibatnya?

Ketika anda tidak menjadikan menonton TV sebagai aktifitas sambilan, maka yang terjadi tidak hanya anda lebih efektif dalam menggunakan waktu, tapi juga dapat lebih fokus pada aktifitas yang sedang dilakukan. Ambil contoh ketika sedang makan. Saat sedang makan tanpa menonton TV, anda dapat lebih menikmati hidangan yang disantap. Anda menjadi lebih sadar pada rasa dan aroma dari hidangan tersebut, apa pun hidangannya.

Sebagai tambahan, pencernaan anda pun dapat bekerja lebih optimal. Akibatnya setelah selesai makan, anda terhindar dari rasa lemas dan mengantuk yang disebabkan oleh pencernaan yang terlalu menyita tenaga karena harus bekerja ekstra keras. Tahukah anda, makanan yang tidak terkunyah baik di mulut, akan menyebabkan kerja yang lebih berat pada pencernaan di dalam tubuh. Sehingga setelahnya tubuh menjadi lemas, kurang bertenaga, walaupun baru saja selesai makan.

Kini apa dampak yang terjadi pada pelajar atau mahasiswa yang belajar sambil menonton TV. Belajar yang sesungguhnya (aktifitas untuk memahami sesuatu dan bukan hanya sekadar memegang buku) merupakan aktifitas yang sangat menuntut konsentrasi, sehingga tentu tidak dapat disandingkan dengan aktifitas lain yang juga menuntut konsentrasi. Karena saat menonton, diperlukan konsentrasi untuk memahami apa yang sedang anda lihat. Bayangkan apa yang terjadi ketika seorang dokter bedah melakukan operasi sambil menonton sinetron TV ?. Tentunya untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, seorang pelajar/mahasiswa perlu belajar tanpa diiringi dengan menonton TV.

Mungkin anda masih beranggapan menonton TV adalah sarana untuk relaksasi setelah melakukan suatu aktifitas. Hal ini juga sama sekali tidak tepat. Karena ketika anda menonton TV, anda mungkin tidak melakukan aktifitas fisik, namun tetap pikiran anda berkonsentrasi pada TV. Ketika anda melakukan relaksasi tanpa menonton TV, misalnya dengan melakukan self hypnosis, meditasi, yoga atau micro sleep, diiringi alunan musik lembut, sebenarnya relaksasi yang anda lakukan jauh lebih optimal, karena tidak hanya anda mengistirahatkan fisik tapi juga pikiran. Dan setelahnya anda tidak hanya mendapatkan fisik yang lebih bugar namun juga pikiran yang lebih jernih.

Kembali lagi, kesimpulannya adalah menonton TV bukan aktifitas yang dapat disandingkan dengan aktifitas lain.

Memberikan Berbagai Model Yang Keliru

Profesi saya sebagai hypnoterapis memberikan banyak kesempatan kepada saya untuk belajar mengenai berbagai hal, utamanya tentang pikiran dan mekanismenya. Salah satu hal yang saya pelajari adalah betapa anak-anak memiliki suggestibility yang relatif lebih tinggi namun (sayangnya) tidak dilengkapi dengan mekanisme filter yang baik. Hal ini tentunya menyebabkan mereka mudah mempelajari berbagai hal, baik ataupun buruk, dari berbagai sumber, termasuk TV.

Memang saat ini, suka ataupun tidak, TV telah berperan pula dalam “pembelajaran” yang dilakukan anak-anak. Perhatikan betapa seriusnya mereka saat menonton TV. Bahkan sebagian dari mereka ada yang sampai marah ada sesuatu yang menginterupsi saat mereka menonton. Perwujudan hasil pembalajaran mereka dinyatakan ketika setelahnya mereka seolah-olah menjadi “replika hidup” dari tayangan yang ditonton. Tiba-tiba saja mereka menjadi individu yang berbeda, memiliki kata-kata baru, cara bicara baru, cara bersikap baru, cara berpenampilan, cara berjalan dan masih banyak lagi yang lainnya. Belief bahwa apa yang mereka tontotn merupakan suatu gambaran ideal, menyebabkan mereka berlaku demikian. Perubahan ini bisa terjadi untuk jangka waktu yang singkat atau berlanjut hingga lebih permanen. Pola ini ternyata tidak hanya muncul pada anak-anak semata melainkan juga hadir di periode remaja bahkan pada beberapa kasus di periode dewasa.

Padahal dulu penemuan TV idealnya ditujukan untuk mempermudah penyampaian informasi sebagai perbaikan atas kelemahan radio. Namun kini tujuan tersebut telah sedikit berkembang. Kini TV telah dan sangat berkaitan dengan berbagai industri. Sehingga mau tidak mau kepentingan bisnis perlu mendapatkan prioritas. Indikasi pada hal ini dapat dengan mudah terlihat di lapangan. Ketika semakin menjamurnya production house yang menyebabkan persaingan bisnis antara mereka yang sangat ketat, membuat orientasi komersial mengalahkan berbagai motif lainnya. Tidak mengherankan sekiranya pertimbangan mengenai suatu tayangan lebih diorientasikan pada laku atau tidaknya di pasaran dibandingkan baik buruknya dampak yang ditimbulkan.

Kurangnya pengawasan dari orang tua semakin memperparah kondisi tersebut. Kesibukan orang tua yang sangat menita waktu, hampir melulu menjadi alasan. Pada akhirnya TV harus berperan sebagai baby-sitter bagi anak-anak. Setiap saat, siang dan malam, TV selalu tersedia untuk menemani mereka. Kalaupun ada orang tua yang memiliki kelonggaran waktu, itu pun belum tentu membuat mereka mampu mengawasi tayangan yang ditonton anakny karena mereka sendiri ada yang belum mampu melepaskan jeratan “hypnosis” oleh TV.

Sehingga tidak mengherankan jika kemudian anak-anak melakukan berbagai perangai buruk, sesuai dengan model yang mereka pelajari melalui tayangan TV. Kenakalan yang terjadi di sekolah hingga menyebabkan guru kewalahan, salah satunya juga disebabkan karena model yang keliru ini. Model ini banyak memberikan pemahaman yang keliru seperti kekerasan sama dengan keberanian, menjadi “pejantan ulung” lebih ideal dibandingkan menjadi manusia sadar dan masih banyak lagi.

Memberikan Rasa Takut Yang Berlebihan

Seperti yang telah saya uraikan pada bagian sebelumnya bahwa anda menyikapi dunia berdasarkan informasi yang masuk ke pikiran. Informasi yang masuk ke pikiran anda, merupakan representasi dari realita anda. Dengan kata lain realita anda ditentukan ke arah mana anda memfokuskan atensi anda. Sehingga tidak mengherankan jika pada suatu kondisi yang sama, misalnya krisis moneter, terdapat individu yang depresi ataupun diliputi dengan rasa khawatir berlebih namun ada juga yang optimis dan bersemangat.

Sadarkah anda pada dampak berbagai tayangan bernuasansa kriminalitas yang ditayangkan hampir setiap saat ke diri anda. Secara tidak langsung, derasnya serbuan tayangan tersebut turut membentuk persepsi anda mengenai dunia yang anda tinggali sebagai tempat yang keras, kejam dan tidak layak untuk di tinggali. Hal ini tentunya berimbas pada hubungan anda dengan individu lain yang dipenuhi dengan rasa curiga, was-was dan khawatir belebihan. Anda pun mulai membatasi diri dari orang lain untuk alasan keamanan. Bahkan mungkin anda juga merasa tidak aman tinggal di rumah sendiri.

Saya tidak mengatakan bahwa anda tidak perlu waspada. Hanya saja jika berbagai tayangan kriminalitas tersebut telah membuat anda menjadi ekstra khawatir, hal itu hanya akan menrugikan anda sendiri, karena membuat ruang gerak anda menjadi sangat terbatas.

Sebaliknya ketika anda mulai mengubah arah ke mana atensi anda dipusatkan, segera setelahnya anda mendapatkan realita yang berbeda. Salah satu presuposisi NLP “the map is not the territory“, yang mengindikasikan bahwa tidak ada satu persepsi yang dapat 100% akurat dengan kenyataan sesungguhnya. Semua persepsi pasti memiliki kebenaran dan kesalahannya masing-masing. Persepsi yang perlu diambil tentulah yang selaras dengan tujuan anda. Sehingga ketika anda mengarahkan persepsi anda pada berbagai peluang yang tersedia di dunia, segera anda mendapatkan begitu banyak peluang yang sebelumnya tidak anda sadari.

Apakah menjadi takut dan kebingungan adalah tujuan anda? Jika tidak, berhentilah menonton tayangan kriminal.

Memicu Gaya Hidup Konsumtif

Suatu ketika saya mendapati seorang klien, perempuan paruh baya, yang ingin menghentikan kebisaan merokoknya. Ia pun kemudian bercerita mengenai pekerjaanya di biro periklanan yang menurutnya sangat menuntut sehingga menyebabkan ia merokok. Beliau bercerita seberapa besarnya anggaran iklan di TV, untuk hitungan detik, yang bisa mencapai angka ratusan juta. Wow… (itulah respons pertama saya ?) Jika si pengiklan bersedia membayar jumlah sebesar itu tentulah ia telah sangat yakin akan efektifitas iklannya, utamanya di TV.

Dan memang pada kenyataannya demikian. Iklan di TV merupakan salah satu influencer yang efektif. Hal ini utamanya disebabkan karena berbagai komponen yang ada pada iklan TV mulai dari perupaan, warna, bentuk, gerak, suara, musik yang menyatu membentuk suatu vektor yang mampu mempengaruhi imajinasi individu. Manurut Tony Buzan, dalam bukunya use your memory, berbagai komponen tersebut merupakan komponen esensial dalam pembentukan memori. Sehingga wajar saja jika kemudian individu yang melihat iklan tersebut selalu teringat dan berimajinasi tentang produk yang diiklankan dan selanjutnya memunculkan dorongan untuk memiliki.

Sehingga tidak berlebihan jika kemudian dikatakan bahwa TV turut memicu gaya hidup konsumtif ketika seseorang membeli sesuatu tanpa pertimbangan secara sadar sebelumnya. Seperti yang terjadi pada seorang kenalan saya yang hampir selalu membeli handphone setiap saat ada model terbaru diluncurkan. Padahal tidak ada yang salah dengan handphone-nya yang sebelumnya. Jika ditelaah lebih lanjut, perbedaan antara satu handphone dengan handphone keluaran selanjutnya tidak terlalu signifikan, kecuali pada penampilannya yang selalu berubah. Kalaupun ada teknologi tambahan, seperti aplikasi internet atau sejenisnya, ia pun belum membutuhkannya (ia bahkan kurang familiar dengan internet). Hal ini membuat saya bingung, mengapa individu sangat mudah tertipu oleh penampilan ?.

(Akhir dari bagian pertama)

Mengendalikan TV Dengan Pikiran (Bagian ke-1 dari 2 bagian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top