Menentukan Tujuan Hidup

Suatu saat ketika saya sedang memberikan pelatihan mengenai Total Mind Learning (TML) untuk kalangan pengajar di salah satu sekolah swasta di kawasan tanggerang, seindividu peserta bertanya mengenai apa pentingnya tujuan hidup. Mungkin pertanyaannya disebabkan karena saya sangat menekankan pentingnya mengetahui tujuan dari semua aktifitas, apakah itu belajar atau bahkan pada konteks yang lebih luas, kehidupan. Kepadanya saya menjanjikan akan membahas secara lebih mendalam pada artikel saya mendatang.

Mengetahui tujuan hidup merupakan suatu hal yang sangat penting, namun masih banyak saja individu yang menjalani hidup tanpa mengetahui tujuan yang diinginkan. Berkali-kali saya mendengar dari individu yang berbeda bahwa hidup dapat diibaratkan seperti air, biarkan saja mengalir. Anda mungkin telah bersekolah selama puluhan tahun tapi tetap belum mengetahui apa tujuan hidup yang sebenarnya. Kesuksesan, ketenaran, kekayaan mungkin berarti bagi anda, namun tanpa mengetahui tujuan hidup yang sebenarnya, di penghujung hari anda menemukan semuanya tidak berarti, hampa. Saya yakin semua individu juga setuju bahwa di setiap aktifitas sangat penting untuk menentukan terlebih dahulu tujuan yang ingin dicapai. Sekiranya anda ingin pergi keluar rumah tentu anda terlebih dahulu telah mengetahui ke mana anda ingin pergi. Bayangkan ketika anda mendapatkan uang berlimpah, katakanlah hasil undian misalnya, namun anda tidak mengetahui hendak diapakan uang yang berlimpah tersebut. Tanpa anda sadari di setiap hari anda menghabiskan sedikit demi sedikit uang tersebut hingga akhirnya habis tak bersisa.

Manfaat mengetahui tujuan hidup

Dengan mengetahui tujuan hidup, anda dapat menggunakan seefektif berbagai sumber daya yang anda miliki untuk mendapatkan tujuan yang diinginkan. Anda menggunakan semua sumber daya yang anda miliki hanya pada koridor pencapaian tujuan. Tentunya anda tidak menggunakan sumber daya yang anda miliki pada berbagai hal yang tidak memiliki sangkut paut dengan pencapaian tujuan.

Ambil contoh sumber daya waktu. Semua individu memiliki durasi waktu yang sama dalam sehari, 24 jam. Namun mengapa ada individu yang berhasil dan ada pula individu yang tidak/kurang berhasil, padahal waktu yang mereka miliki sama. Salah satu penyebabnya terletak pada pengaturan waktu. Pada mereka yang berhasil mereka mampu mengalokasikan waktunya pada hal-hal yang baik secara langsung ataupun tidak, berhubungan dengan tujuan yang ingin dicapai. Sementara pada mereka yang tidak atau kurang berhasil, tidak memiliki batasan tentang bagaimana menggunakan waktunya.

Tujuan hidup juga dapat membantu anda untuk menentukan pilihan secara sadar. Dalam hidup tentu anda menemui banyak pilihan, mulai dari apa yang ingin dimakan hingga profesi yang ingin digeluti. Pilihan yang baik tentu selaras dengan tujuan hidup yang telah didefinisikan sebelumya. Sehingga tidak berlebihan sekiranya dikatakan bahwa mengetahui tujuan hidup dapat membantu anda untuk mementukan berbagai pilihan yang ditemui dalam hidup.

Contoh untuk hal ini terjadi pada klien saya, sebut saja namanya X. X memiliki kesulitan dalam menentukan berbagai pilihan dalam hidupnya. Sayangnya kedua orang tuanya tidak mengetahui bahwa anaknya mengalami kesulitan yang cukup serius ketika harus menentukan pilihan. Semua pilihannya ditentukan oleh kedua individu tuanya. Salah satu pilihan terberatnya muncul ketika ia harus menentukan tentang studi lanjutnya. Ia mengalami kesulitan untuk menentukan mana yang perlu lebih dipentingkan, studinya atau kekasihnya. Melanjutnya sekolah ke luar negeri membawa konsekuensi berpisah dengan kekasihnya. Sementara X berada dalam kebingungan, di lain pihak orang tuanya terus mendesaknya untuk segera menyelesaikan urusan yang berkenaan dengan studinya. Dalam kebingungan, X beralih ke obat-obatan terlarang. Menurutnya saat itu ia membutuhkan waktu untuk keluar sejenak dari kebingungannya dan kembali lagi ketika ia telah siap untuk kembali memikirnya. Setelahnya yang terjadi jauh dari dugannya. Ia justru mendapatkan masalah lain, masalah yang lebih serius, ketergantungan obat terlarang. Studi S-2-nya pun, yang rencananya akan ditempuh di luar negeri, terbengkalai, ia mendapatkan masalah dengan obat terlarang dan hubungan dengan orang tuanya berakhir pada kondisi yang kurang harmonis.

Mengetahui tujuan hidup juga membantu untuk menentukan aktifitas yang dilakukan. Di negara yang hampir seluruh penduduknya merupakan umat bergama, ironisnya merupakan negara yang memiliki kondisi korupsi relatif lebih unggul dibandingkan negara-negara lain. Seolah agama telah gagal dalam memberikan rambu-rambu tentang aktifitas yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Jika demikian halnya maka tentu yang salah adalah umatnya. Salah satunya disebabkan karena tidak mengetahui tujuan hidup yang paling hakiki. Wajar saja jika pemikirannya hanya mampu mendefinisikan tujuan sebatas uang sehingga mereka bersedia melakukan apa pun untuk uang.

Menentukan tujuan hidup

Mungkin saat ini anda bertanya, “Bagaimana caranya menentukan tujuan hidup?” Untuk melakukan hal ini anda perlu menginvestasikan waktu anda dan keluar dari semua rutinitas yang anda lakukan. Setelahnya jangan lupa gunakan pula alat tulis, pulpen dan kertas untuk mencatat semua hasil pemikiran anda. Saya melakukan hal ini lebih dari satu kali untuk benar-benar mengkristalkan apa sebenarnya tujuan hidup saya.

Anda dapat memulai dengan bertanya apa yang paling anda inginkan saat ini. Anda dapat mendaftarkan semua hal yang anda inginkan saat ini. Mungkin anda menginginkan rumah baru, mobil baru, atau yang lainnya. Apa pun yang anda inginkan, tuliskan di kertas. Setelahnya pikirkan hal ini, hal apa yang dibutuhkan untuk mewujudkan semua keinginan tersebut? Artinya anda perlu menentukan syarat utama sehingga semua keinginan yang telah anda daftarkan tersebut menjadi kenyataan. Mungkin anda berpikir bahwa anda perlu kerja keras, pemikiran cemerlang, jaringan pertemanan yang luas dan lainnya. Setelahnya kembali lagi tanyakan apa yang dibutuhkan untuk kembali mewujudkan hal tersebut. Lanjutnya bertanya menggunakan mekanisme serupa. Dengan demikian anda terus naik ke tujuan yang lebih tinggi. Jika anda melakukan ini terus maka akan ada saatnya dimana anda akan berhenti, karena tujuan yang anda temui merupakan tujuan akhir, the ultimate goal. Beberapa klien saya ada yang menceritakan mereka ada yang sampai menangis mengetahui tujuan akhir mereka.

Konsekuensi dari tujuan hidup

Tujuan hidup yang telah anda definisikan membawa konsekuensi bagi anda dalam menjalani hidup keseharian. Untuk menjelaskan lebih baik mengenai hal ini saya akan menggunakan tujuan hidup saya sebagai contohnya.

Tujuan hidup saya sebagai berikut: …”menjalani hidup secara berani dan sadar, membuat pilihan dan mengambil pelajaran di setiap kondisi untuk menjadi lebih baik, memberikan kontribusi terbaik bagi sekitar dan meninggalkan dunia dengan damai”… Menjalani hidup secara berani dan sadar membawa konsekuensi bagi saya untuk memiliki pemahaman di setiap saat dalam hidup. Ketakutan hanya disebabkan oleh ketidaktahuan. Ketika anda takut terhadap sesuatu, katakanlah takut terhadap ular, hal itu semata-mata disebabkan karena anda tidak mengetahui apa yang harus dilakukan saat bertemu dengan ular. Dengan kata lain anda tidak mampu menangani ular saat bertemu dengannya (untuk lebih jelas mengenai hal ini anda dapat membaca artikel tentang anatomi emosi). Satu-satunya cara untuk mendapatkan pemahaman hanya dengan melakukan proses pembelajaran berkelanjutan.

Sementara sadar memiliki arti bahwa saya perlu mengetahui konsekuensi dari setiap hal yang saya lakukan. Hal ini mungkin terdengar klise namun sangat dalam dan signifikan dampaknya. Banyak individu yang melakukan berbagai aktifitas namun tidak menyadari konsekuensinya. Sering kali mereka “terjebak” melakukan suatu aktifitas tanpa mengetahui esensinya. Ketika saya bertanya mengapa ia melakukan hal yang ia lakukan, ia menjawab, “Habis dari pada tidak ada kerjaan.

Membuat pilihan membawa menuntut saya untuk selalu secara aktif menentukan apa yang saya inginkan. Dalam hidup anda akan selalu bertemu dengan berbagai pilihan. Ketika anda tidak melakukan pilihan bagi hidup anda sendiri, maka anda akan akan mendapatkan pilihan yang ditentukan pihak lain. Untuk menentukan pilihan tentu dibutuhkan pemahaman atas masing-masing pilihan yang tersedia. Kembali lagi, pemahaman atas berbagai pilihan hanya bisa didapat melalui proses pembelajaran berkelanjutan.

Mengambil pelajaran di setiap kondisi berarti saya harus selalu menemukan manfaat dari berbagai kondisi yang terjadi dalam hidup. Saya tidak mendefinisikan “gagal” dalam kamus hidup saya. Banyak sekali individu, bahkan beberapa diantaranya individu yang terdekat dengan saya, memiliki definisi ketika ia tidak mendapatkan hal yang diinginkannya, itu adalah tanda bahwa semuanya telah berakhir. Seolah ia bertindak sebagai malaikat pencabut nyawa dalam kehidupannya. Persepsi seseorang tentang kegagalan sangat menentukan responnya pada berbagai hal yang terjadi dalam hidupnya. Ketika ia mendefinisikan kegagalan sebagai tanda bahwa ia harus berhenti, maka tentunya akan membuat ia berhenti melakukan berbagai usaha untuk mewujudkan keinginannya. Secara metaforik saya dapat menjelaskan hal ini dengan menceritakan mengenai dua tikus yang terjebak dalam wadah mentega. Satu tikus berhenti berusaha keluar karena beranggapan semua usaha hanya akan menghasilkan situasi yang sama, percuma. Sementara tikus yang satunya terus berusaha keluar, dan tanpa ia disadari mentega yang diinjaknya semakin lama semakin padat dan mengeras hingga akhirnya ia dapat terbebas.

Anggapan bahwa kegagalan merupakan akhir dari segalanya hanya akan menyebabkan pemborosan sumberdaya, baik itu waktu, tenaga, pemikiran ataupun yang lainnya. Menyadari hal itu, ketika saya belum mencapai apa yang saya inginkan, saya beranggapan kondisi ini sebagai umpan balik untuk mengevaluasi kembali hal yang telah saya lakukan. Ada kalanya setelahnya saya harus beralih ke strategi lain untuk mewujudkan keinginan atau mungkin saya hanya perlu bekerja lebih keras dari sebelumnya. Setiap individu memiliki keterbatasan persepsi (limitted perceptual range) sehingga mereka tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kemudian. Berbagai kemungkinan dapat terjadi. Sehingga tentunya yang dapat mengakhiri semuanya hanyalah individu yang bersangkutan, if it is to be, it’s up to me. Selain itu hal ini juga membuat saya perlu secara aktif menjalani kehidupan. To live is a verb.

Menjadi lebih baik mengindikasikan adanya pertumbuhan pada hidup. Dan memang kenyataannya demikian. Jika anda telah berkeluarga saat ini, berarti anda telah lulus dari pelajaran kehidupan masa kanak-kanak, anda telah lulus dari pelajaran kehidupan masa remaja, anda telah lulus dari pelajaran kehidupan dewasa dan kini anda sedang berada pada pelajaran masa pernikahan. Tidakah anda menyadari bahwa di setaip tingkatan, pelajarannya semakin bertambah sulit. Menjadi lebih baik memberikan konsekuensi bahwa saya perlu terus melanjutkan ke pelajaran yang lebih sulit dari hidup saya. Pada mereka yang berhenti, sebenarnya mereka membiarkan kesempatan belajar mengenai kehidupan lewat begitu saja.

Memberikan kontribusi terbaik berarti bahwa saya secara aktif menjalani hidup untuk memberikan andil terbaik saya pada lingkungan, tidak hanya pada manusia, tapi juga pada hewan, tumbuhan dan alam semesta. Hal ini disebabkan salah satunya adalah karena saya ingin mendapatkan hal-hal yang terbaik dalam hidup. Anda pun mungkin telah mengetahui mengenai “hukum ketertarikan”, bahwa anda hanya menuai apa yang anda tabur. Sehingga tentunya saya hanya menuai yang terbaik selama saya menaburkan yang terbaik. Hal ini saya manifestasikan salah satunya adalah melalui pekerjaan saya. Menulis artikel ini contohnya, merupakan salah satu media bagi saya untuk memberikan kontribusi terbaik. Untuk memberikan kontribusi terbaik, tentu saya perlu kembali lagi melakukan proses pembelajaran.

Meninggal dengan damai lebih sebagai suatu konsekuensi setelah saya melakukan semua hal di atas. Melanjutkan pada perjalanan selanjutnya setelah memanifestasikan yang terbaik dari saya. Mendatangkan suatu kepuasan tersendiri setelah melalui proses pembentukan hingga mencapai kondisi yang terbaik relatif pada keseluruhan perjalanan yang telah dilalui sebelumnya.

Menyadari keseluruhan hal di atas, membuat saya paham bahwa hidup ternyata sangat erat dengan pembelajaran. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan konsekuensi dari pembelajaran yang dilakukan. Seperti naik helikopter, semakin tinggi anda terbang, semakin luas persepsi anda tentang bidang di bawahnya. Hal ini selalu menarik bagi saya. Selalu membuat saya bertanya-tanya, kemampuan apa yang akan saya miliki 10, 20, 30, tahun dari sekarang.

Hidup sebagai proses evolusi

Jika dipikirkan lebih lanjut, sebenarnya hidup sangat identik dengan proses evolusi, perubahan ke karakteristik yang lebih baik. Untuk lebih menjelaskan mengenai hal ini maka saya akan menggunakan teori evolusi yang dipopulerkan oleh Charles Darwin. Saya mengangkat teori ini bukan untuk memunculkan kontroversi mengenai evolusi melainkan untuk membantu menjelaskan hidup sebagai evolusi berkelanjutan.

Menurut Darwin, karakteristik makhluk hidup merupakan hasil dari suatu proses evolusi dari karakteristik sebelumnya, perubahan ke karakteristik yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Lebih baik karena lebih dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang berubah.

Sederhananya, katakanlah manusia berasal dari kera. Anggap saja saya dan anda hidup di jaman dahulu kala. Saya, anda dan lainnya adalah kera . Setiap hari kita habiskan hanya melakukan rutinitas, mencari pisang, istirahat dan berkembang biak. Dari satu hari ke hari yang lain kita melakukan aktifitas yang tidak jauh berbeda.

Hingga suatu hari dewa turun dari khayangan dan berjumpa dengan saya. Ia menawarkan apakah saya mau menjadi manusia. Ia menjelaskan bahwa menjadi manusia lebih baik dibandingakan menjadi kera. Tentu tawarannya membuat saya bingung karena saya telah merasa nyaman dengan kondisi saya sebagai kera. Berubah menjadi manusia berarti saya harus meninggalkan semuanya, semua hal yang telah saya kuasai, semua hal yang saya sukai, dan meninggalkan semua teman yang saya telah terbiasa bersama. Sehingga saya katakan padanya saya harus memikirnya terlebih dahulu mengenai tawarannya untuk beberapa saat.

Ketika hari penentuan tiba, saya akhirnya menentukan untuk menjadi manusia. Seketika, swiiisssh, saya berubah menjadi manusia. Seketika saya menjadi manusia, saya mampu mendapatkan lebih banyak alternatif yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, ketika saya masih menjadi kera. Saya dapat lebih mudah menemukan pisang, bahkan saya dapat melakukan hal yang tidak dapat dilakukan oleh kera, menanam pisang. Selain itu saya dapat pula menemukan makanan lainnya, mampu melihat berbagai kesempatan yang selama ini tidak pernah terpikirkan sebelumya. Akhirnya saya mengakui betapa nikmatnya menjadi manusia.

Dan cerita terus berlanjut. Kini jadilah saya manusia yang hidup di tengah hutan. Seperti tarzan di tengah hutan belantara di antara para kera. Menyadari nikmatnya menjadi manusia, muncul keinginan untuk terus melanjutkan perkembangan. Untuk hal ini terdapat pilihan bagi saya. Saya dapat melakukan hal itu sendiri, dengan belajar secara mandiri, melakukan trial and error. Tentu hal ini sangat menghabiskan waktu. Sementara pilihan yang lain, saya dapat belajar dari yang lain. Namun sebelumnya saya perlu melatih terlebih dahulu para kera untuk menjadi manusia, sehingga dapat saling belajar bersama. Jika saya hanya mengajarkan sebatas apa yang telah saya ketahui, tentu mereka hanya hanya mengetahui apa yang telah saya ketahui sebelumnya. Sehingga saya menemukan bahwa lebih bijaksana jika saya melakukan keduanya, melanjutkan perkembangan pribadi sekaligus membantu yang lain untuk berkembang pula. Hingga suatu saat, yang lain dapat pula membantu untuk berkembang lebih lanjut. Inilah yang sebanrnya sedang saya lakukan dalam menjalani kehidupan.

Pertanyaannya sekarang adalah, “Sudahkah anda mengetahui tujuan hidup anda?” Mengetahui hal ini, akan sangat membantu anda dalam menjalani setiap hari anda. Ketika setiap hari tidak lagi hampa, melainkan merupakan bongkahan bata yang memiliki arti, yang membentuk istana, istana yang penuh arti.

Akhirnya, saya ucapkan selamat menentukan tujuan hidup dan datang di kesadaran baru….

 

Menentukan Tujuan Hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top