Awareness & Konsentrasi

Tentu tidak ada satu individu pun di dunia ini yang menyangkal bahwa konsentrasi merupakan salah satu hal yang terpenting dalam kehidupan. Setiap aspek dalam hidup manusia, mulai bekerja hingga bermain sangat membutuhkan konsentrasi. Pekerjaan yang dilakukan individu akan lebih bernilai ketika individu tersebut mampu mengkonsentrasikan pikirannya. Aktifitas relijius menjadi lebih khidmat ketika individu mampu berkonsentrasi. Semua ajaran agama sangat menekankan pada para pemeluknya tentang pentingnya konsentrasi, ironisnya masih sering didapati individu yang kurang mampu menikmati aktifitas relijiusnya salah satunya diakibatkan karena kurang mampu berkonsentrasi. Demikian pula halnya dalam keseharian. Banyak individu yang kurang mampu melakukan aktifitasnya secara optimal salah satunya karena kurang mampu mengkonsentrasikan pikiran pada hal yang sedang/akan dilakukan. Sehingga tidak berlebihan jika dikatakan bahwa salah satu cara untuk meningkatkan kualitas hidup adalah melalui kemampuan berkonsentrasi.

Terkait khusus dengan pendidikan, banyak siswa/mahasiswa yang tidak/kurang mampu mencapai prestasi yang optimal salah satunya disebabkan karena kurang mampu berkonsentrasi. Konsentrasi merupakan induk dari semua aktifitas pembelajaran, namun ironisnya sangat banyak individu pembelajar yang tidak/belum mampu berkonsentrasi. Ketidakberadaan pihak yang mampu mengajari mereka terkait dengan konsentrasi, baik guru maupun orang tua, turut menyebabkan hal ini. Selain itu, faktor lingkungan yang kurang mendukung, utamanya tayangan televisi juga turut melemahkan hal tersebut.

Dampak negatif televisi bagi konsentrasi

Televisi memiliki dampak negatif terhadap daya konsentrasi individu. Dampak negatif televisi pada daya konsentrasi individu setidaknya dapat dibedakan sebagai berikut:

    • Singkatnya durasi konsentrasi (span of concentration)Tayangan informasi yang beraneka ragam silih berganti memborbardir pikiran individu sedemikian rupa pikiran individu dipaksa untuk berkonsentrasi pada satu tayangan hanya dalam waktu singkat. Penelitian yang dilakukan oleh psikolog Ed Palmer(1) terkait dengan perancangan serial televisi anak-anak Sesame Street menyatakan bahwa masing-masing segmen dari serial televisi tersebut akan optimal jika durasinya tidak lebih dari 4 (empat) menit. Konsekuensi dari hal ini tentu seiring semakin intensifnya individu menyimak tayangan televisi, tanpa ia sadari durasi konsentrasinya semakin singkat. Dengan kata lain, durasi konsentrasi yang singkat sering kali diakibatkan karena pembiasaan.

      Kesimpulan dari penelitian di atas juga nampak pada banyaknya sudut pandang (point of view) kamera yang terlibat dalam suatu tayangan (film, sinetron atau yang lainnya). Hal ini utamanya ditujukan untuk meminimalkan kejenuhan pemirsa pada tayangan yang tengah disaksikan. Mekanisme ini memungkinkan para produser untuk mempertahankan atensi pemirsa terkait dengan suatu tayangan. Grafik berikut dapat menjelaskan lebih lanjut mengenai hal yang dijelaskan di atas.

    • Kesulitan pengendalian konsentrasi pada stimulus tertentuBerbagai tayangan yang memiliki kandungan kegemparan bagi pikiran (excitement), misalnya hal yang terkait dengan seksualitas, mistik atau yang lainnya menyebabkan individu sulit mengendalikan konsentrasinya pada stimulus tertentu. Ketika individu terbiasa untuk menyaksikan tayangan yang mengandung komponen kegemparan, contohnya tayangan terkait dengan seksualitas atau horor, sebagai akibatnya pikiran lebih mudah terkonsentrasi pada hal tersebut. Sering kali fenomena ini terjadi secara otomatis di luar kehendak individu yang bersangkutan. Hal ini utamanya diakibatkan oleh mekanisme alami pikiran individu dalam melakukan pembelajaran, di mana selalu memberikan atansi baru pada asosiasi-asosiasi baru, yang mana kembali lagi dimiliki hanya oleh berbagai hal yang memiliki kandungan kegemparan (excitement). Tentu anda lebih mudah mengingat berbagai hal yang aneh dibandingkan berbagai hal yang awam bagi anda. Jika hal ini terus berlanjut, tentu akibat setelahnya tanpa disadari individu semakin sulit untuk mengendalikan konsentrasinya pada hal yang penting bagi dirinya, misalnya materi pelajaran yang tengah dipelajari.

Siswa/mahasiswa merupakan kelompok terbesar dari pemirsa tayangan televisi. Populasi kelompok ini semakin bertambah seiring bertambahnya ragam tayangan yang ditawarkan. Jika hal ini terus terjadi tanpa disadari oleh mereka, pada saatnya nanti semakin banyak siswa/mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam mengendalikan konsentrasinya.

Akibatnya sering kali didapati berbagai solusi yang tidak menyelesaikan terkait dengan problematika lemahnya pencapaian prestasi siswa. Padahal akar permasalahannya sering kali terletak pada lemahnya daya konsentrasi. Berbagai akitifitas mulai dari penambahan jam belajar baik di dalam maupun di luar sekolah dilakukan namun sering kali berakhir dengan kesia-siaan dan tidak jarang disertai dengan dampak samping yang sangat merugikan, salah satunya adalah rasa antipati terhadap pembelajaran akibat kejenuhan yang diakibatkan oleh penjejalan materi yang dilakukan tanpa hasil hampir di setiap saat.

Tingkat Keawasan (Awareness)

Terkait dengan konsentrasi, terdapat terminologi lain yang penting dibahas, tingkat keawasan (awareness). Dalam konteks biopsikologi, tingkat keawasan dapat diklasifikasikan sebagai persepsi dan/atau reaksi kognitif dari organisme terkait dengan stimulus dari kondisi eksternal dan internal. Tingkat keawasan tidak terkait secara langsung dengan pemahaman, melainkan hanya kemampuan untuk secara sadar atau luar sadar mendapatkan (perceive) stimulus eksternal atau internal. Tingkat keawasan dapat terjadi secara sadar (conscious) atau luar sadar (non conscious). Tingkat keawasan menyediakan masukan data bagi organisme untuk mengembangkan representasi mental terkait dengan pengalaman yang dialaminya. Pembahasan lebih lanjut mengenai representasi mental akan diberikan pada bagian selanjutnya. Guna memahami hal ini lebih lanjut, anda dapat melakukan eksperimen sederhana berikut (akan jauh lebih optimal jika dilakukan bersama dua atau lebih individu):

Pejamkan mata anda untuk beberapa saat. Sementara anda memejamkan mata, dengarkan setiap stimulus audio (suara) yang terdengar. Daftarkan berbagai stimulus audi tersebut. Setelahnya bandingkan dengan rekan anda. Berapa banyak stimulus audio yang dapat anda daftarkan. Melalui eksperimen ini anda dapat mengukur tingkat keawasan anda.

Setelah anda melakukan eksperimen tersebut, sadarkah anda dengan berbagai stimulus eksternal yang ditangkap oleh panca indra. Pada percobaan di atas, eksperimen dibatasi hanya pada indra pendengaran. Jika panca indra yang lain turut dilibatkan, seperti indra pengelihatan (visual), penciuman (olfactory), perabaan (tactile) dan pengecapan (gustatory), dapatkah anda membayangkan betapa banyak stimulus eksternal yang masuk melalui panca indra anda. Dan seluruh stimulus tersebut selanjutnya diproses di pikiran. Dari berbagai stimulus eksternal tersebut, tidak semua perlu diperhatikan atau terkait dengan tujuan yang ingin anda dapatkan terkait dengan aktifitas. Bahkan tidak sedikit pula gangguan yang diberikan oleh berbagai stimulus yang tidak terkait dengan aktifitas yang tengah anda lakukan. Misalnya ketika anda tengah membaca buku, berbagai stimulus audio terkait dengan suara kendaraan di sekitar tempat pembacaan tentu tidak ada kaitannya dengan tujuan dari aktifitas pembacaan. Ketika pikiran anda terlalu berkutat dengan stimulus tersebut, hal yang terjadi justru anda tidak dapat melakukan aktiftas secara optimal terkait dengan aktifitas pembacaan yang anda lakukan. Disinilah kemampuan konsentrasi membuat individu mampu membuat individu mampu melakukan aktifitasnya secara optimal.

Berbeda dengan tingkat keawasan, konsentrasi merupakan kemampuan untuk memilih di antara berbagai stimulus untuk diproses lebih lanjut di pikiran. Hal ini didasari oleh fakta bahwa tidak semua stimulus perlu diperhatikan. Dalam kaitannya dengan konsentrasi sebenarnya semua individu, tua atau muda mampu berkonsentrasi. Tidak ada satu individu yang tidak mampu berkonsentrasi. Seorang anak balita yang menangis akibat terjatuh ketika berjalan, menyiratkan bahwa ia berkonsentrasi pada rasa sakit akibat terjatuh. Seketika konsentrasinya dialihkan tidak lagi pada rasa sakitnya melainkan pada hal lain, responnya segera berubah.

Setiap individu, terlepas dari usia ataupun jenis kelamin mampu berkonsentrasi. Namun sekiranya pengukurannya dilakukan pada dua hal, yaitu pemusatan perhatian (attention) pada hal tertentu dan durasi dari pemusatan perhatian (span of concentration) maka hal ini akan sangat berbeda. Banyak individu mengalami fenomena menunggang kuda tanpa tali pelana, ketika mereka yang dikendalikan oleh konsentrasinya. Di mana kuda merupakan analogi untuk perhatian individu dan tali pelana merupakan kendali yag dimiliki oleh individu atas perhatiannya. Ketidakberadaan tali pelana menyebabkan individu lebih dikendalikan oleh berbagai stimulus eksternal yang sering kali tidak terkait dengan hal yang ingin dicapai/dituju oleh individu bersangkutan. Akibatnya sering kali individu terkonsentrasi pada hal yang tidak/kurang signifikan bagi dirinya. Ambil contoh sering kali di setiap pelaksanaan workshop Prima Focus, rangkaian program yang ditujukan khusus untuk meningkatkan daya konsentrasi individu, saya sering mendapati individu yang tidak mampu mengendalikan konsentrasinya. Ketika pembelajaran tengah berlangsung sekiranya tiba-tiba terdengar suara handphone atau berbagai suara lain yang tidak terkait dengan workshop, segera selanjutnya banyak mata melihat ke sumber suara tersebut dan bukan lagi pada pembelajaran yang tengah berlangsung. Padahal mereka sangat paham bahwa hal tersebut (suara handphone) tidak membawa informasi yang signifikan bagi dirinya, namun anehnya mereka seolah tidak berdaya untuk mengendalikan konsentrasinya. Contoh lain yang masih terkait dengan pelaksanaan workshop yang saya (Yovan P. Putra) adakan, ketika saya meminta satu individu untuk maju ke depan dan menjelaskan kembali berbagai hal yang telah disampaikan selama pelaksanaan workshop, banyak dari individu yang kemudian lebih terkonsentrasi pada berbagai persepsi negatif yang dibuatnya di pikiran terkait dengan pembicaraannya di depan publik, misalnya berbagai pembayangan seolah para peserta yang lain merendahkan kemampuannya. Sehingga sering kali saya mendapati mereka tidak memberikan potensi seluruhnya, berbagai materi yang mereka pahami tida muncul kepermukaan ketika disampaikan kembali. Ketika saya meminta dijelaskan kembali di luar ruangan, secara empat mata, kebanyakan dari mereka mampu melakukannya jauh lebih baik. Hal ini menyiratkan ketika mereka berada di depan kelas, konsentrasi mereka tidak tertuju pada berbagai hal yang harus disampaikan melainkan lebih pada persepsi yang dibuatnya mengenai persepsi individu lain terkait dengan penampilannya, yang sering kali bernada negatif.

Konsentrasi

Konsentrasi merupakan suatu kemampuan. Serupa dengan kemampuan lain seperti kemampuan mengendarai sepeda atau yang lainnya, konsentrasi membutuhkan pelatihan. Proses pelatihan cukup dilakukan melalui penggunaan berulang pada berbagai aktifitas. Penggunaan pada berbagai aktifitas memungkinkan terjadinya proses perulangan yang mengarahkan individu pada tingkat penguasaan lebih lanjut. Untuk alasan inilah maka kemampuan konsentrasi perlu diberikan sedini mungkin pada individu sehingga seiring dengan pertambahan usia, kemampuan konsentrasinya dapat terus meningkat.

Konsentrasi merupakan hal yang abstrak. Sehingga untuk memudahkan mempelajarinya maka perlu terlebih dahulu dibuatkan modelnya. Perhatian dapat dianalogikan sebagai batang pohon. Di mana perhatian yang terfokuskan sebagai batang pohon yang memiliki sedikit cabang sementara perhatian yang kurang terfokuskan merupakan pohon yang memiliki banyak cabang. Dari masih-masing percabangan masih berpotensi untuk menghasilkan ranting-ranting. Demikian selanjutnya hingga tidak terhingga. Sehingga pada pikiran yang tidak terlatih, khasanah perhatiannya menjadi sangat kompleks seperti pohon yang memiliki banyak cabang dan ranting. Untuk lebih jelasnya perhatikan ilustrasi berikut:

Garis putus-putus menyiratkan konsentrasi pikiran pada stimulus tertentu yang seharusnya terjadi, sementara garis-garis penuh yang lain menyiratkan berbagai potensi percabangan yang diakibatkan oleh berbagai stimulus pengalih (distracter) yang mungkin terjadi. Seperti yang tertera pada gambar tersebut, potensi percabangan pemikiran dapat berjumlah hingga tidak terbatas.

Guna mampu memusatkan perhatian sebaik mungkin, individu perlu membiasakan diri untuk memotong cabang sedini mungkin sebelum bermunculan berbagai ranting. Masing-masing batang, cabang dan ranting merepresentasikan berbagai stimulus, baik eksternal maupun internal yang bisa diperhatikan individu. Individu perlu memilih dan memilah stimulus mana yang perlu diperhatikan terkait dengan tujuan yang hendak dicapainya. Hal ini dapat dilakukan salah satunya dengan mempertanyakan, apakah hal yang dilakukan memiliki signifikansi dengan tujuan yang hendak dicapai. Hal ini membutuhkan pelatihan yang sangat intensif. Dengan melakukan hal ini maka individu mampu terus menjaga perhatiannya hanya pada stimulus yang penting bagi dirinya. Jika individu terus membiasakan hal ini, maka setelahnya ia akan mampu menjadi individu yang proaktif dan tidak lagi menjadi individu yang reaktif, yang selalu dikendalikan oleh berbagai stimulus eksternal.

Jika individu selalu membiasakan hal ini, maka tentu ia dapat mencapai apapun yang ia inginkan. Apakah hal itu terkait dengan pembelajaran, pekerjaan ataupun berbagai aspek lainnya dalam kehidupan. Hal ini merupakan salah satu prasyarat utama yang dapat mendorong individu mencapai tahap excellence dalam berbagai hal yang dilakukannya. Ilustrasi berikut terkait dengan pikiran yang terlatih.

Dari ilustrasi di atas dapat dipelajari bahwa pada pikiran yang terlatih, stimulus utama yang terkait dengan aktifitas yang tengah dilakukan dapat terkonsentrasikan secara sempurna, direpresentasi dengan garis lurus yang penuh. Sementara berbagai stimulus yang tidak terkait dengan hal yang perlu diperhatikan semakin berkurang dalam kuantitas dan kualitas, direpresentasikan dengan garis putus-putus.

Pada artikel berikutnya akan diberikan lebih lanjut mengenai hal yang dapat dilakukan untuk melatih konsentrasi ke tahapan yang lebih baik.

Referensi:

1. Gladwell, Malcolm. (2000). The Tipping Point. Little, Brown & Company
2. http://www.sciencenews.org

Awareness & Konsentrasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top