Pada tulisan kali ini saya masih membahas lebih lanjut mengenai pentingnya pengendalian pikiran, baik dalam kehidupan keseharian maupun dalam kaitannya secara khusus dengan pembelajaran. Sebelum pembahasan dilanjutkan secara lebih mendalam, berikut saya berikan beberapa contoh yang terkait dengan hal ini. Mungkin anda pernah mendapati diri berada di salah satu situasi berikut;
”Pernahkah ketika anda berbicara dengan lawan bicara, terlepas dari usia maupun jenis kelaminnya, anda mendapati seolah lawan bicara menyimak dengan sungguh-sungguh. Mungkin anda mendapati hal ini dari seluruh gerak tubuhnya yang menyiratkan bahwa ia sungguh-sungguh memperhatikan semua yang anda sampaikan. Namun ketika anda menanyakan kembali semua hal yang sebelumnya anda sampaikan, lawan bicara anda tidak mampu melakukannya. Seolah semua hal yang anda sampaikan masuk melalui telinga kirinya untuk kemudian keluar melalui telinga kanannya.”
”Pernahkah anda menjumpai seorang siswa yang setiap kali berada di kelas seolah memperhatikan secara sungguh-sungguh berbagai hal yang disampaikan gurunya. Namun ketika hasil ujian dibagikan, prestasinya tidak sesuai dengan yang diharapkan.”
”Pernahkah anda mendapati anak anda saat belajar di rumah, seolah benar-benar menyimak berbagai hal yang tertulis di buku pelajarannya. Saat membaca pandangan matanya tidak teralihkan dari buku. Namun ketika anda menguji pemahamannya atau ketika ia mengikuti ujian di sekolah, semua hal yang di pelajarinya tidak muncul ke permukaan. Hingga anda merasa ragu apakah anak anda belajar atau tidak saat di rumah.”
Hal apa yang dapat disimpulkan dari berbagai contoh di atas? Terdapat keserupaan dari semua contoh yang telah diberikan di atas, seluruhnya menyiratkan tentang pembentukan pemahaman di pikiran individu. Sebelum lebih lanjut mengenai hal ini, penting sebelumnya kita membahas mekanisme pembentukan pemahaman di pikiran individu.
Pemahaman
Mungkin anda, serupa dengan berbagai klien yang sering saya (Yovan P. Putra) jumpai, memiliki pertanyaan yang terkait dengan pemahaman, seperti; ”Apakah yang dimaksud dengan pemahaman?”, ”Kapankah seseorang dapat dikatakan paham mengenai sesuatu?”
Melalui kelima panca indranya, individu menangkap berbagai stimulus dari dunia sekitar dan memasukannya ke otak yang memungkinkan terjadinya proses selanjutnya. Pertanyaannya adalah bagaimanakah sebenarnya individu mampu memahami pengalaman yang di alaminya? Guna menjawab pertanyaan tersebut anda dapat melakukan percobaan sederhana berikut;
”Kini perhatikan dengan seksama situasi sekeliling anda, sementara anda membaca tulisan ini. Lihat semua hal yang terlihat, dengarkan semua hal yang terdengar dan rasakan semua hal yang terasa pada diri anda. Setelahnya pejamkan mata anda. Dapatkah anda memunculkan kembali berbagai pengalaman yang baru saja anda alami di dalam pikiran (secara mental)? Dapatkah anda melihat lagi semua hal yang sebelumnya terlihat, semua suara yang sebelumnya terdengar dan semua rasa yang sebelumnya terasa kali ini di dalam pikiran (secara mental)?”
Hampir semua individu mampu melakukan percobaan tersebut. Hal ini membuktikan keberadaan sesuatu selain berbagai hal yang terperhatikan di luar tubuh manusia. Percobaan yang lebih ilmiah terkait dnegan hal ini dilakukan dengan menggunakan PET (Positron Emission Topography), salah satu mekanisme pemindaian otak (brain scanning). Ketika individu melihat sesuatu, salah satu bagian dari otaknya, visual cortex, yang terletak di bagian occipital lobes menunjukan aktifitas. Ketika individu tersebut tidak lagi melihat, melainkan hanya membayangkan hal yang sebelumnya terlihat, bagian yang sama dari otaknya juga aktif. Temuan ini mengindikasikan terdapat mekanisme lain selain penangkapan dan penghantaran berbagai stimulus eksternal melalui panca indra, dalam pembentukan pemahaman pada individu.
Berbagai hal yang terjadi di luar individu dapat disebut sebagai pengalaman eksternal. Dalam rangka memahami berbagai hal yang terjadi di dunia sekitar, individu melibatkan panca indranya untuk menangkap berbagai stimulus eksternal yang pada gilirannya berguna dalam pembentukan model pengalaman eksternal. Model pengalaman yang terjadi di dalam pikiran individu di sebut pengalaman internal. Pengalaman eksternal tidak akan pernah sama dengan pengalaman internal. Sedikitnya terdapat dua faktor yang menyebabkan perbedaan ini, di antaranya:
- Keterbatasan panca indra. Indra pendengaran manusia hanya mampu menangkap stimulus audio dalam kisaran 20 200000 hz. Demikian pula halnya dengan panca indra yang lain. Keterbatasan ini tentu sangat berpengaruh pada stimulus yang mampu di tangkap, yang pada gilirannya mempengaruhi hasil dari proses lebih lanjut secara internal di pikiran.
- Otak manusia merupakan mesin yang sangat efektif dan efisien terkait dengan pengolahan stimulus. Sedikitnya otak manusia melakukan tiga hal berikut dalam mengefisienkan fungsinya:
- Penghapusan
Berbagai hal yang tidak memiliki kadar kepentingan relatif bagi individu yang bersangkutan, akan dihapus. Contohnya pernahkan anda bertanya mengapa saat anda di jalan raya dan anda melihat berbagai stimulus salah satunya adalah berbagai plat mobil di sekitar anda, namun tidak semua (bahkan mungkin tidak ada satu pun) plat mobil yang anda ingat setelahnya. Hal ini membuktikan adanya suatu mekanisme penghapusan yang menghilangkan berbagai informasi yang tidak memiliki kadar kepentingan bagi individu. - Pendistorsian
Pernahkah anda menyadari mengapa ketika anda meminta individu untuk menyampaikan kembali informasi yang sebelumnya anda sampaikan padanya, anda mendapati informasi tersebut telah berubah? Fenomena ini membuktikan bahwa individu mendistorsi informasi yang didapatnya. Pendistorsian ini sangat dipengaruhi oleh berbagai informasi yang telah di dapatkannya sebelumnya oleh individu. - Pengelompokan/generalisasi
Untuk menyederhanakan proses pengolahan informasi, pikiran individu melakukan pengelompokan dari berbagai informasi yang diterima. Sedemikian rupa berbagai keunikan dari masing-masing informasi terhilangkan. Hal ini kembali lagi merujuk pada faktor pertama yang telah disebutkan sebelumnya, penghapusan. Sebagai contoh mungkin anda pernah mendapati diri dikecewakan oleh seseorang. Setelahnya anda selalu menghindar dari individu tersebut karena anda tidak ingin hal yang sama kembali terulang, walaupun hal itu belum tentu menjadi kenyataan. Hal ini merupakan contoh dari pengelompokan yang dilakukan oleh pikiran individu, yang juga merupakan pondasi dasar dari pembentukan kebiasaan.
- Penghapusan
Dari berbagai faktor tersebut jelaslah bahwa pengalaman eksternal tidak akan pernah sama dengan pengalaman internal. Pengalaman internal yang diciptakan individu terkait dengan pengalaman eksternalnya menentukan penyikapan individu pada pengalaman eksternalnya. Singkatnya penyikapan individu lebih ditentukan pada pengalaman internal yang terjadi pada dirinya dan bukan pada pengalaman eksternal.
Proses pembentukan pengalaman internal merupakan mekanisme alami dari pikiran manusia dalam memahami berbagai pengalamannya. Namun hal terpenting yang kurang dipahami adalah sering kali proses penciptaan pengalaman internal terjadi secara otomatis, tanpa disadari. Hal ini mengakibatkan sering kali berbagai penciptaan pengalaman internal terjadi tanpa kendali yang pada gilirannya mempengaruhi respon individu terkait dengan pengalamannya. Sehingga sering kali respon individu terkait dengan pengalaman eksternalnya seolah terjadi tanpa sadar. Contohnya ketika individu dihina, ia langsung merasa sedih dan ketika dipuji, ia langsung merasa tersanjung. Padahal jika dipikirkan kembali keduanya merupakan satu dari sekian banyak kemungkinan penyikapan yang dapat dilakukan individu. Jika dikaitkan dengan pembelajaran di kelas, ketika siswa tengah memperhatikan penjelasan dari gurunya, tiba-tiba pikirannya teringat dengan film yang semalam ia simak. Pada menit-menit selanjutnya sementara ia masih berada di kelas, pikirannya terus disibukan dengan film tersebut sementara seluruh fisiknya, dari kulit kepala hingga telapak kaki, seolah memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh guru di kelas.
Pemahaman mengenai mekanisme ini sangat menentukan kemampuan individu dalam berkonsentrasi. Ketika individu kurang memahami mekanisme ini, hal yang terjadi selanjutnya adalah ia menjadi tidak mampu memiliki konsentrasi yang prima, baik secara kualitas maupun secara kuantitas (durasi).
Attention & Attendance
Kini jika konteksnya dikembalikan lagi ke dalam pembelajaran di kelas, segera kita mendapati bahwa pengalaman sangat eksternal terkait dengan berbagai penyikapan yang diwujudkan oleh siswa secara fisik ketika berada di kelas. Contohnya ke mana arah pandangannya saat berada di kelas, bagaimana dengan gerak tubuhnya saat berada di kelas dan lainnya, merupakan manifestasi dari kehadirannya (attendance) saat berada di kelas.
Sementara berbagai hal yang terjadi secara internal, di dalam pikiran siswa saat berada di kelas, menentukan berbagai hal yang ia perhatikan (attention). Kembali lagi seperti penjelasan yang telah disampaikan sebelumnya, bahwa fenomena kehadiran (attendance) tidak harus sama dengan perhatian (attention). Secara fisik siswa bisa saja seolah memperhatikan berbagai penjelasan yang diberikan oleh gurunya sementara secara internal pikirannya sedang sibuk dengan hal lain, misalnya mengenai film yang semalam ia simak.
Singkatnya berbagai hal yang kita ”hadiri” tidak berarti kita ”perhatikan”, karena keduanya merupakan dua struktur pengalaman yang berbeda. Kehadiran (attendance) merupakan hal yang lebih bersifat manipulatif, sementara perhatian (attention) sebaliknya. Anda dapat saja seolah memperhatikan semua hal yang dijelaskan oleh seseorang sementara di pikiran anda menyibukan diri anda dengan hal yang lain. Mekanisme ini tidak saya pahami sebelumnya ketika kecil. Saat dimarahi oleh orang tua, sering kali untuk menjaga mood, pikiran saya tanpa disadari teralihkan pada hal lain yang lebih menyenangkan. Satu-satunya hal yang saya pelajari sewaktu kecil terkait dengan hal ini adalah pikiran saya memiliki prisai yang mampu melindungi, dan saya dapat menggunakannya kapan saja untuk melindungi diri di setiap kondisi.
Keberhasilan pembelajaran tentu lebih ditentukan pada seberapa mampunya individu untuk mengendalikan perhatiannya (attention) dan bukan kehadirannya secara fisik (attendance). Sehingga hal ini menjelaskan mengapa banyak individu yang seolah sangat bersungguh-sungguh dalam pembelajaranya namun ia tidak mencapai prestasi yang diharapkan.
Semoga dengan lebih memahami mengenai kedua mekanisme di atas, baik siswa maupun guru dapat mewujudkan pembelajaran yang lebih efektif, sehingga hasil pembelajaran dapat lebih optimal. Pada tulisan berikutnya akan dibahas berbagai hal yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan pembelajaran terkait dengan kedua mekanisme ini