Bekerja dengan banyak siswa dan mahasiswa yang mengalami hambatan belajar, menempatkan saya untuk selalu memperhatikan dari luar, menjadi meta person. Seringkali solusi atas suatu permasalahan didapatkan ketika anda menempatkan diri sebagai pengamat/observer, melepaskan seluruh keterlibatan atas berbagai hal yang tengah terjadi, terlepas dari berbagai konsekuensi yang ditimbulkan setelahnya. Kondisi ini membuat anda lebih mampu berpikir dengan metode yang sama sekali baru, yang mungkin tidak/belum terpikirkan sebelumnya. Berbagai alternatif kreatif bermunculan setelahnya. Bukankah berbagai penemuan seringkali “kebetulan” didapatkan oleh individu yang berada di luar proses pencarian?
Kondisi sebagai meta person menyebabkan saya banyak mempelajari berbagai hal dari siswa (mahasiswa) yang memiliki hambatan dalam belajar. Terdapat berbagai hal yang perlu lebih dilakukan sekaligus juga ada berbagai hal yang seharusnya tidak dilakukan. Terkadang muncul pemikiran seandainya saya dapat kembali lagi ke sekolah atau bangku kuliah dan melakukan berbagai hal ini. Namun hal ini tidak berarti saya menyesali proses sekolah dan perkuliahan yang telah saya lalui. Saya hanya berkeyakinan bahwa dengan dengan melakukan berbagai temuan ini, optimalitas pembelajaran saya tentunya akan jauh lebih meningkat lagi.
Pada artikel kali ini, saya menyimpulkan berbagai hal yang telah saya pelajari dari pengalaman saya dan dari pengalaman orang lain, kemudian meramunya dalam bentuk berbagai strategi yang dapat dilakukan siswa (mahasiswa) untuk lebih meningkatkan optimalitas pembelajaran.
Strategi I — Temukan Tujuan Bersekolah (Berkuliah)
Tidak sedikit siswa (mahasiswa) yang tidak (belum) mengetahui tujuan dari proses belajar yang dijalaninya. Tujuan yang saya maksudkan di sini bukanlah sembarang tujuan, melainkan tujuan yang sangat menginspirasi. Saya menemukan pada mereka yang mengalami depresi berkepanjangan, umumnya tidak atau belum mengetahui hal yang dapat menginspirasi hidup mereka. Ketika hal tersebut muncul, dapat dipastikan mereka segera keluar dari depresi yang dialami.
Umumnya siswa (mahasiswa) yang memiliki hambatan dalam proses belajarnya, lebih disibukan pada aktifitas habitual dibandingkan mencari tahu apa sebenarnya tujuan dari proses belajar yang mereka tengah jalani. Jawaban atas pertanyaan tersebut merupakan pondasi dari bangunan proses belajar yang ada di atasnya. Tentu anda dapat membayangkan apa yang terjadi jika suatu bangunan didirikan di dengan pondasi yang tidak kuat atau bahkan tidak memiliki pondasi sama sekali. Sehingga sehebat apa pun pengajarnya, sebanyak apa pun materinya, selama si siswa (mahasiswa) belum mengetahui tujuan dari proses belajar tersebut semuanya hanya akan berakhir dengan kesia-siaan.
Menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut sama juga halnya dengan menentukan tujuan dari perjalanan yang anda akan jalani. Saat ingin berpergian, tentunya anda akan menentukan terlebih dahulu tujuan akhir yang ingin dicapai. Tanpa adanya tujuan akhir, pasti anda hanya akan berputar-putar tanpa arah. Tahukah anda, hal ini tentunya membuang sangat banyak sumber daya, mulai dari waktu, uang, tenaga dan lainnya.
Ketidakmampuan menentukan tujuan persekolahan (perkuliahan) yang dilakukan, menyebabkan banyak siswa (mahasiswa) yang kemudian menjalaninya dengan seadanya, kurang bersemangat. Mereka mungkin akan mengatakan bahwa mereka telah memiliki tujuan atas keberadaan mereka di sekolah (kampus). Namun tujuan tersebut bukanlah tujuan yang inspiratif bagi mereka.
Pada siswa (mahasiswa) yang kurang termotivasi saya menemukan mereka juga memiliki jawaban atas pertanyaan apa tujuan dari sekolah atau kuliah yang dijalani. Mereka umumnya menjawab karena “dipaksa” orang tua, kakak, adik, teman atau yang lainnya. Namun tentu kita tahu bahwa itu bukanlah tujuan yang inspiratif. Tujuan yang sebenarnya dapat memotivasi individu. Ketika anda lapar tentunya anda akan melakukan apa pun untuk segera makan guna menghilangkan rasa lapar anda, kecuali anda termasuk golongan yang malas makan ketika lapar ?
Sebenarnya semua tujuan yang dibutuhkan untuk bergerak telah ada di dalam diri setiap individu. Sehingga untuk mengetahuinya anda cukup bertanya dengan diri sendiri. Mungkin pertanyaan seperti “apa yang ingin dicapai dalam hidup?” dapat pula membantu untuk menemukan tujuan dari proses belajar yang ingin/sedang dijalani. Saya memiliki keyakinan bahwa tujuan yang datang dari dalam diri sangat kuat untuk terus memberikan cukup banyak tenaga dalam menjalani hari-hari anda. Dengan mendapati tujuan anda sendiri, anda akan mampu bekerja/belajar 50 hingga 70 jam seminggu. Tidakkah hal ini sangat luar biasa?
Jika anda telah bertanya pada diri sendiri namun belum mendapatinya, anda perlu melakukan dengan cara yang lain. Anda perlu membuka diri pada lingkungan. Tanyakan pada orang-orang di sekitar anda, tentunya pada mereka yang berhasil dalam menjalani proses belajarnya. Pada mereka yang telah berhasil dalam proses belajarnya, tentu telah menemukan tujuan dari proses belajar yang mereka lalui. Sementara pada mereka yang gagal tentu kondisinya sebaliknya. Selain itu, buku juga dapat membantu anda untuk menemukan tujuan yang dapat lebih menginspirasi anda untuk terus belajar.
Sementara jika anda adalah orang tua atau guru, anda pun dapat pula membantu siswa (mahasiswa) menemukan tujuan dari pembelajarannya. Saya sangat paham bahwa hal ini tidak akan mudah. Sehingga tidak mengherankan banyak orang tua yang lebih suka mencoba menanamkan tujuan pembelajaran dibandingkan membantu mengeluarkannya dari dalam diri siswa. Ketika anda membantu siswa (mahasiswa) untuk menemukan tujuannya, gunakanlah bahasa yang mereka pahami. Semua tujuan yang datang dari luar diri siswa (mahasiswa) tidak akan terlalu memotiovasi. Bahkan sering kali yang timbul hanyalah pemaksaan yang diakhiri dengan frustasi. Semakin anda mencoba memaksa, semakin anda frustasi.
Sehingga kembali lagi saya menekankan jika anda belum menemukan tujuan dari proses pembelajaran yang akan anda lalui dan anda tidak berusaha untuk mencarinya, maka sangat saya rekomendasikan untuk berhenti sekarang sebelum semuanya terlambat. Sering kali saya mendapati mahasiswa yang berganti jurusan kuliah justru menjelang akhir dari periode perkuliahannya. Tentu hal ini sama dengan pemborosan banyak sumber daya dengan percuma.
Sehingga temukan sekarang juga tujuan dari pembelajaran anda………… SEKARAAAAAAANG !!!!!!
Strategi II — Self-Hypnosis Sebagai Latihan Mental
Suatu ketika saya bertemu dengan klien yang kebetulan berprofesi sebagai arsitek. Kepadanya saya bertanya bagaimana sebenarnya proses pembangunan rumah. Ia menceritakan bahwa dalam membangun rumah langkah pertama yang ia lakukan adalah menentukan jenis rumah yang mampu mengakomodir seluruh kebutuhan anggota keluarga. Tahap selanjutnya adalah menentukan disain rumah. Tahap ini menurutnya adalah tahap terpenting karena akan merupakan landasan bagi proses pembangunan selanjutnya. Disain merupakan visualisasi dari rumah yang akan dibangun.
Metode pembangunan rumah di atas dapat pula diaplikasikan pada berbagai aktifitas yang anda lakukan. Pada semua hal yang dikerjakan, anda tentu membutuhkan bayangan hasil dari pekerjaan yang akan dilakukan. Tanpa arah yang jelas, setiap kerja yang anda lakukan hanya akan berputar-putar tanpa arahan yang jelas. Dapatkah anda membayangkan apa yang terjadi ketika anda ingin pergi ke Bandung namun anda justru mengambil arah ke Surabaya.
Dengan memiliki bayangan akhir dari kerja yang akan anda lakukan, maka seluruh langkah anda menjadi jauh lebih mudah. Tidak hanya itu, keseluruhan proses kerja pun menjadi jauh lebih efektif. Di setiap hari anda mengetahui hal apa lagi yang akan anda lakukan sebagai kelanjutan dari kerja sebelumnya. Keseluruhan hal ini kemudian menjadi suatu proses yang otomatis. Prinsip ini juga merupakan salah satu dari ketujuh prinsip manusia efektif yang diuraikan Stephen R. Covey, mulai dari akhir menuju ke awal.
Self-hypnosis merupakan aktifitas yang lebih dibandingkan sekadar visulisasi. Dalam self-hypnosis turut dilibatkan pula komponen auditory dan kinesthetic, sehingga seluruh komponen pengalaman menjadi lengkap. Hal ini membawa keuntungan secara mental karena secara tidak langsung anda melatih pikiran untuk menghadapi kejadian sebenarnya. Seperti yang terjadi pada seorang klien saya yang kebetulan merupakan seorang golfer. Ia menceritakan sering kali dalam permainan golf, hasil yang didapatkannya bervariasi, kadang sangat baik, namun tidak sedikit pula hasilnya menjadi sangat buruk. Hal ini merupakan suatu yang aneh menurutnya, mengingat semuanya serba sama, mulai dari tempat, waktu, alat yang digunakan dan lainnya. Mengetahi hal ini maka saya berkesimpulan bahwa pasti hal ini dipengaruhi oleh pemikirannya. Kepadanya saya melatih untuk bermain golf secara mental melalui self-hypnosis. Saya mengkondisikannya untuk selalu berada pada kondisi emosi puncak (peak state) setiap saat sebelum bermain. Kemudian saya memintanya untuk melakukan hal yang sama berulang kali. Tidak lama berselang ia menceritakan permainannya yang menjadi jauh lebih baik. Tidak hanya itu, ia pun kini lebih mampu mengatur ritme permainan sehingga, secara tidak langsung ia mengendalikan seluruh proses permainan.
Hal yang serupa juga dapat terjadi pada siswa (mahasiswa) saat menghadapi ujian.. Sering saya mendapati siswa (mahasiswa) yang menceritakan bahwa setiap kali ujian kondisi emosinya menjadi tidak menentu. Bahkan ada pula yang sampai sakit. Umumnya mereka mengatakan ketika ujian sesaat lagi dimulai, semua materi yang telah dikuasai mendadak hilang, terlupakan. Sehingga terlepas dari seberapa banyaknya anda belajar, selama anda tidak mampu mengendalikan situasi emosi, hasilnya akan tetap kurang optimal. Kembali lagi pada mereka, saya meminta agar melakukan self-hypnosis setiap hari sebelum belajar dan ujian. Hasil yang sama seperti yang diperoleh oleh golfer di atas juga diperoleh siswa (mahasiswa), ketika hasil ujiannya menjadi jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Strategi III — Dorong Diri Menembus Batasan
Jika perhatikan sungguh-sungguh, sebenarnya banyak sekali potensi diri individu yang belum terungkap. Hal ini umumnya disebabkan karena individu yang bersangkutan hanya nrimo saja kondisi saat ini. Dengan kata lain cepat puas dengan apa yang telah didapatkan. Untuk memunculkan potensi yang terpendam, setiap individu perlu mengkondisikan dirinya sedemikian rupa sehingga secara otomatis berbagai potensi yang ada di pikiran bawah sadar muncul. Pikiran bawah sadar sangatlah bijaksana dan selalu melindungi individu.
Salah satunya mekanisme untuk memunculkan potensi bawah sadar adalah dengan mendorong diri anda melebihi dari batasan saat ini. Anda tidak pernah tahu apakah anda dapat melakukan lebih dari yang telah anda lakukan saat ini jika anda tidak pernah memaksanya. Khusus untuk strategi ini, saya memberikan contohnya pada perkuliahan. Bagi para siswa mungkin dibutuhkan sedikit penyesuaian pada strategi ini.
Jika anda telah merasa nyaman dengan jumlah SKS tertentu di setiap semester, misalnya 18 SKS, maka saya sangat menganjurkan sekali agar anda “sedikit” menambahnya, misalnya menjadi 20 SKS. Hal ini semata-mata bertujuan agar anda benar-benar mengetahui batasan diri anda sebenarnya. Anda mungkin mengatakan bahwa jumlah SKS ini sesuai dengan rekomendasi dari pembimbing akademis. Namun pembimbing akademis bukan diri anda. Tidakkah orang tua anda saja masih belum sepenuhnya tahu apa yang tepat bagi anda, apa lagi orang yang baru anda kenal beberapa semester (bahkan ada pembimbing yang tidak mengenal mahasiswanya). Sebutan pembimbing akademis disertai dengan sederatan embel-embel beberapa huruf di depan atau di belakang nama, tidaklah memberikan arti bahwa mereka mengenal siapa anda sebenarnya dengan mengetahui sampai di mana batasan diri anda. Sehingga sekali lagi saya sangat menganjurkan agar anda tidak membiarkan birokrasi kampus membatasi anda untuk terus berkembang. Tentunya anda akan membutuhkan trik tersendiri untuk melakukannya.
Saya mencontohkan dengan prestasi olahraga di ajang internasional. Tidakah anda memperhatikan di seluruh cabang olah raga akan selalu ada rekor yang dipecahkan. Apakah ada pelatih atau super pelatih yang benar-benar mengetahui batasan seorang atlet? Anda sendiri yang dapat menjawab pertanyaan tersebut.
Hal serupa juga dikatakan oleh salah satu Presiden Amerika Serikat yang paling berpengaruh, Abraham Lincoln. Ia mengatakan bahwa jika suatu pekerjaan ingin beres, maka berikan pada orang yang memiliki lebih sedikit waktu luang. Menurut saya hal ini disebabkan karena pada mereka yang memiliki banyak waktu luang cenderung memiliki sifat menunda. Sehingga pekerjaan semakin lama bahkan ada kemungkinan tidak akan pernah selesai.
Strategi IV — Temukan Hubungan Antara Tujuan Setiap Pelajaran Dan Tujuan Sekolah (Kuliah)
Dapatkah anda membayangkan situasi pertempuran di masa lalu? Jauh sebelum ditemukannya senapan/pistol, peperangan masih dilakukan menggunakan tombak dan panah. Tahukah anda, dampak yang dihasilkan sekumpulan anak panah yang menuju pada satu tujuan jauh lebih besar dibandingkan hanya satu anak panah.
Pelajaran (mata kuliah) yang anda ambil, serupa pula dengan contoh anak panah di atas. Para perumus kurikulum (yang pintar-pintar tentunya ? ) telah mendisain agar semua pelajaran (mata kuliah) tersebut mengarah ke tujuan yang sama, tujuan persekolahan (perkuliahan). Walaupun tidak dapat dipungkiri setiap disain kurikulum tentu memiliki kelemahan yang disebabkan oleh berbagai alasan, mulai dari muatan kepentingan hingga yang disebabkan oleh keterbatasan manusia.
Anda pun mungkin memiliki pemikiran yang sedikit berbeda dengan para pendisain kurikulum. Mungkin terdapat beberapa pelajaran (mata kuliah) yang anda anggap penting dan sesuai dengan tujuan persekolahan (perkuliahan) sementara ada pula yang anda pikir tidak selaras dengan tujuan persekolahan (perkuliahan). Namun tahukah anda, jika dipikirkan lebih lanjut sebenarnya semua pelajaran (mata kuliah) tersebut berhubungan satu sama lain. Bukankah sebenarnya all knowledge is continuum dan kebenaran hakiki adalah semuanya adalah satu. Sehingga tugas kita sebenarnya dalam University of Life adalah mencari hubungan antara hal yang satu dengan hal lainnya, termasuk pula menemukan hubungan antara tiap pelajaran (mata kuliah) yang diberikan.
Ketika anda berhasil menemukan hubungan antar tiap mata kuliah, hal selanjutnya yang terjadi adalah anda segera mendapatkan apa yang dikenal dalam NLP sebagai passion. Dengan bermodalkan passion anda akan mampu mengeluarkan performa terbaik yang pada akhirnya mengarah pada pencapaian hasil terbaik. Dengan kata lain, ketika anda menemukan passion maka setiap langkah anda segera menuju ke excellence. Semakin anda senang akan sesuatu, semakin anda mahir. Semakin mahir anda, semakin anda senang. Dan siklus tersebut terus berputar-putar di setiap saat. Hal inilah sebenarnya menyebabkan anda dapat melakukan hobi dengan sangat baik sekali.
Sehingga……… siapa bilang sekolah (kuliah) tidak bisa menyenangkan?
(bersambung ke bagian ke-2…)