Dalam sehari-hari setiap individu tidak lepas dari konflik, baik konflik dalam keluarga maupun di luar keluarga. Konflik tidak selamanya berarti buruk, karena konflik yang “dirawat” secara sempurna dapat membawa banyak pelajaran untuk perbaikan. Tapi sebaliknya pada konflik yang tidak “dirawat” secara baik, tentu memiliki lebih banyak efek merusak dibandingkan kegunaan.
Konflik terjadi umumnya disebabkan karena perbedaan pemaknaan atas suatu kejadian. Dalam kehidupan sehari-hari tentu setiap individu mengalami berbagai kejadian. Untuk setiap kejadian yang terjadi setiap individu kemudian membuat “peta” di pikirannya mengenai kejadian tersebut. “Peta” yang dibuat tersebut merupakan mekanisme bagi individu untuk memahami suatu kejadian. Dengan menggunakan “peta” individu kemudian memberikan makna atas suatu kejadian. Namun hal ini bukan berarti “peta” yang dibuat akan sama dengan kejadian yang sebenarnya. Setiap “peta” yang dibuat oleh individu akan selalu memiliki kekuarangan disebabkan oleh keterbatasan penginderaannya (limitted sensory awareness).
Pada suatu kejadian yang sama, berbagai individu bisa datang dengan “peta” yang berbeda-beda di pikirannya. Inilah yang kemudian menyebabkan berbagai individu dapat menyikapi suatu kejadian dengan respon yang berbeda-beda. Mungkin salah satu contoh yang tepat untuk menjelaskan hal ini dengan memberikan pengalaman ketika saya bertemu dengan satu pasangan muda yang ingin melangsungkan acara syukuran rumah baru. Sang suami menyatakan bahwa saat ini ada sedikit hambatan untuk melangsungkan acara tersebut, sehingga membutuhkan pemikiran lebih lanjut sekiranya acara tetap ingin dilangsungkan. Pendapat si suami dianggap oleh si istri sebagai bentuk penundaan waktu. Kejadian selanjutnya tentu dapat ditebak, konflik. Konflik yang terjadi antara keduanya akhirnya lebih mengarah pada ada atau tidaknya penundaan dan bukan bagaimana melaksanaan acara tersebut. Sementara mereka terus berada dalam konflik rencana pelaksanaan acara tersebut tidak menunjukan kemajuan yang berarti.
Kembali lagi keberagaman “peta” yang ada di pikiran setiap individu, memang sangat berpotensi memicu konflik. Sehingga pengaturan yang sangat baik mengenai hal ini sangat dibutuhkan sehingga setiap konflik yang terjadi dapat “dirawat” secara baik dan tidak berkepanjangan. Sebelum membahas lebih jauh mengenai hal ini, tentu akan jauh lebih optimal kiranya ada pembahasan mengenai penyebab konflik tersebut, yaitu berbagai faktor yang menyebabkan keberagaman makna dari suatu kondisi.
Makna suatu pengalaman bagi individu dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya:
Fleksibilitas “peta”
Untuk kejadian yang sama, pemaknaan yang diberikan oleh masing-masing individu dapat berbeda-beda. Makna merupakan “hasil proses” representasi internal (“peta”) individu. “Peta” yang serba terbatas, baik dalam kuantitas maupun kualitas, tentu menyebabkan keterbasan pemaknaan yang dapat diberikan oleh seorang individu atas suatu kejadian. Sehingga sangat penting bagi setiap individu untuk “merawat” keragaman dan fleksibilitas “peta” pada pikirannya. Salah satu caranya adalah dengan terus bertumbuh di setiap saat. Membaca satu buku perminggu dalam mewujudkan hal tersebut.
Representasi sensorik
Representasi sensorik yang saya maksudkan di sini adalah bagaimana seorang individu menggunakan panca indranya untuk memahami berbagai kejadian yang dialaminya, yang kemudian membentuk “peta” di pikirannya. Representasi sensorik membentuk “struktur dalam” dari bahasa yang digunakan oleh individu untuk merepresentasikan kejadian yang dialaminya. Perbedaan respresentasi sensorik ini tentu sangat mempengaruhi pemaknaan yang diberikan oleh individu utamanya saat mengkomunikasikan “peta” atas suatu kejadian. (bahasanya agak kriting ya
)
Biarkan saya membuatnya sederhana (tapi tidak menyederhanakan). Hal yang saya maksudkan di atas sebenarnya seperti ini; ketika anda memvisualisasikan “sukses” di pikiran anda, tentu akan berbeda artinya ketika anda merasakan “sukses” di pikiran anda. Memvisualisasikan dan merasakan tidak hanya anda membuat “peta” di pikiran anda, tapi juga mempengaruhi pilihan kata yang anda gunakan saat mengkomunikasikan “sukses” kepada orang lain. Jika orang lain yang anda ajak bicara menggunakan pendengaran sebagai sarana membuat “peta” di pikirannya, hal ini tentunya menyebabkan perbedaan makna yang dipahami oleh orang lain tersebut. Hal yang serupa juga dapat anda lakukan kepada orang lain dengan menanyakan saja bagaimana ia mengetahui namanya. Katakan anda bertemu dengan seseorang yang bernama “Agus”. Tanyakan kepadanya bagaimana ia dapat mengetahui bahwa namanya “Agus”? Apakah ia melihat sesuatu di pikirannya? Seperti apa yang ia lihat? Apakah ia mendengar suara di pikirannya? Seperti apa suaranya? Apakah ia merasakan sesuatu di pikirannya? Seperti apa rasanya? Dan anda dapat terus memberikan pertanyaan, yang intinya menanyakan bagaimana ia dapat mengetahui apa yang ia ketahui. Jika anda terus dan terus melakukan hal ini maka pada satu saat anda memunculkan keraguan mengenai hal yang sebelumnya sangat ia yakini. Harap diingat saat anda melakukan hal ini jangan mengatakan anda mengetahuinya dari saya OK
.
Konteks
Pemaknaan yang diberikan oleh individu atas suatu kejadian juga sangat ditentukan oleh konteks dari kejadian tersebut. Kejadian atau pesan yang sama akan mendapatkan respon yang berbeda pada konteks yang berbeda. Contohnya ketika anda melihat seseorang yang ditusuk pisau di atas panggung teater tentu akan berbeda maknanya ketika anda melihatnya ditusuk di belakang panggung.
Tanpa disadari sebenarnya banyak individu yang kemudian memberikan pesan, pernyataan atau yang lainnya, pada konteks yang relatif kurang tepat. Individu tersebut bisa saja beranggapan bahwa maksud atau intensinya baik, namun tetap kemudian menimbulkan kemarahan pada individu lain. Bayangkan apa yang terjadi ketika seornag dokter yang tengah berada di ruang operasi darurat, kemudian istrinya menelfon hanya untuk menanyakan, “Apakah kamu sudah makan?” 
Kerangka mental (frame)
Kerangka mental (frame) yang anda tempatkan pada suatu kejadian akan memberikan konteks tertentu pada kejadian tersebut. Memahami suatu kejadian dari “kerangka masalah” hanya akan memfokuskan atensi anda pada satu aspek dari kejadian tersebut, aspek masalah, aspek yang memberatkan, menghambat dan lainnya. Kondisinya akan jauh berbeda ketika anda memahaminya dari kerangka solusi. Pembahasan lebih lanjut mengenai hal ini terdapat pada artikel mengefektifkan kritik.
Tentu menyadari hal ini tidak ada anda tidak ingin memahami suatu kejadian dari kerangka masalah melainkan sebaliknya dari kerangka solusi. Namun sedikit orang yang tahu bahwa anda dapat beralih dari kerangka masalah ke kerangka solusi hanya dengan merubah pertanyaan di pikiran anda, bukan lagi kenapa???(dengan intonasi kemurungan) menjadi bagaimana??? (dengan intonasi penasaran). Mudah kan? 
Saluran/media pesan
Selanjutnya hal lain yang juga mempengaruhi pemaknaan adalah saluran komunikasi atau media yang membawa pesan yang ingin disampaikan. Saluran komunikasi atau media sangat berpengaruh pada pemaknaan atas pesan yang disampaikan. Bahkan pengaruh yang diberikannya sangat signifikan hingga dapat merubah respon individu yang menerima pesan tersebut.
Suatu ketika saya bertemu dengan dengan seorang anak yang tidak bisa menghentikan selera makannya. Akibatnya selain tubuhnya menjadi terlalu besar besar (untuk seusaianya, 4 SD) ia juga menjadi sangat sulit berkonsentrasi pada pelajarannya di sekolah atau di rumah, karena sangat mudah mengantuk. Mengetahui bahwa si anak sangat sering menonton berbagai tayangan mistik di TV dan sangat mengagumi karakter jagoan yang umumnya adalah tokoh Pak Kyai, maka saya mendatangkan seseorang yang cukup tua. Saya kemudian mendandaninya orang tua tersebut sedemikian rupa sehingga menyerupai tokoh Pak Kyai di tayangan mistik yang sering ditontonnya. Mulai dari memintanya untuk menyemir sedikit rambutnya sehingga nampak beruban, memasang jenggot (yang tentunya juga beruban), berjalan perlahan, menggunakan pakaian putih plus sorban. Setelahnya saya memintanya untuk berbicara pada si anak agar ia mengurangi selera makannya. Dan seperti yang telah saya duga sebelunya, si anak mematuhi. Perubahan yang sangat drastis dan seperti magic. Sangat mudah kan
.
Value dan belief
Faktor terakhir yang juga mempengaruhi adalah value dan belief. Makna merupakan produk dari value dan belief. Hal ini sangat berkaitan erat dengan pertanyaan “kenapa?”. Suatu pesan, kejadian, pengalaman yang anda anggap sangat bermakna sebenarnya yang sangat berhubungan dengan nilai-nilai utama anda. Belief berkaitan erat dengan koneksi sebab-akibat dari suatu kejadian sementara value memiliki peranan pada penentuan makna dari kejadian. Merubah value dan belief tentu merubah pula makna dari suatu kejadian bagi anda.
Secara linguistik, value berarti prinsip, kualitas atau entitas yang sangat berharga atau sangat diinginkan bagi individu. Jika anda ingin mengetahui value anda, tanyakan pada diri anda pertanyaan ini, “Apa yang selalu membuat saya terbangun di pagi hari dan beraktifitas?” Jawabannya sangat beragam, mungkin; sukses, ketenaran, tanggung jawab, kesenangan, pencapaian, kreatifitas atau yang lainnya.
Value anda memberikan makna atas pengalaman yang anda alami. Hal ini kemudian sangat menentukan strategi mental dan respon anda atas pengalaman tersebut. Jika anda memiliki value keamanan, maka tentu di setiap kondisi anda akan lebih mengarahkan semua pendekatan pada aspek keamanan dan berusaha sejauh mungkin dari bahaya. Contohnya adalah seseorang yang saya kenal. Di setiap kondisi semua pendekatannya lebih di arahkan pada aspek keamanan. Mungkin hal itu disebabkan oleh usianya yang tidak lagi muda dan pengalamannya di masa lalu ketika mengalami masalah yang sangat besar dan pelik. Hampir di setiap saat ia mengedepankan aspek keamanan atas suatu kondisi, tidak hanya bagi dirinya tapi juga pada semua orang di sekitarnya. Hal ini tentu sangat membatasi, tidak hanya bagi dirinya tapi juga bagi orang lain di sekitarnya. Wajar saja jika sering sekali muncul konflik antara ia dan orang di sekitarnya.
Value merupakan pondasi dari motivasi dan juga merupakan filter persepsi. Ketika anda mampu menghubungkan antara rencana masa depan dan tujuan dengan value anda maka tujuan tersebut menjadi lebih kuat karena lebih koheren dengan diri anda. Akibatnya tujuan tersebut akan lebih mudah tercapai dibandingkan tujuan lain yang tidak koheren. Itulah sebabnya saya berkali-kali menegaskan pada banyak orang tua, bahwa faktor utama dalam prestasi belajar tidak terletak pada ada atau tidaknya fasilitas pendukung belajar seperti bimbingan belajar atau yang lainnya. Melainkan yang lebih utama adalah motivasi internal si anak yang perlu dibangun, salah satunya dengan memberikan value tentang kecerdasan dan pertumbuhan.
Banyak individu yang belum mampu membedakan antara value dengan kriteria. Memang value sangat berkaitan dengan kriteria, namun sebenarnya keduanya tidak sama. Value lebih berhubungan dengan apa yang anda inginkan. Kriteria berhubungan dengan standar atau bukti yang anda gunakan dalam mengambil keputusan. Bahkan sebenarnya kriteria berasal dari kata yunani, krites yang berarti menilai. Kriteria anda sangat menentukan tipe dan kondisi yang anda inginkan dan sangat menentukan pada bukti yang anda gunakan untuk mengevaluasi apakah anda telah mencapai hal yang anda inginkan.
Penyebab utama konflik adalah pemaknaan individu atas suatu kejadian. Hal ini berarti pula bahwa subjektifitas sangat berkaitan dengan munculnya konflik. Value dan kriteria merupakan salah satu contoh aspek subjektifitas dari suatu pengalaman. Sebaliknya, berbeda dengan “fakta” yang lebih mengedepankan pada objektifitas. Dua individu dapat berada pada kondisi yang sama, dapat mengklaim memiliki value yang sama, namun bertindak dalam pola yang berbeda. Bisa saja mereka memiliki value yang sama, tapi masing-masing memiliki bukti pencapaian atau kriteria yang berbeda. Contohnya “sukses”, bagi seseorang mungkin saja dibuktikan dengan memiliki banyak uang, sementara bagi orang yang lain dengan memiliki banyak ilmu.
Resolusi konflik
Harapan saya kini anda telah memiliki pemahaman yang lebih dalam mengenai konflik. Sekarang saya akan memfokuskan pembahasan pada resolusi konflik. Resolusi konflik melalui modifikasi value sangat berhubungan dengan berbagai teknik reframing yang telah saya ulas pada artikel mengefektifkan kritik. Untuk lebih jelasnya saya akan menggunakan contoh kasus.
Suatu ketika saya bertemu dengan seseorang yang mengatakan bahwa istrinya memberikan masalah karena tidak mengijinkannya keluar dari pekerjaan saat ini, yang bergaji rendah dan miskin aktifitas, untuk kemudian bergabung dengan teman-teman kuliahnya dulu membentuk perusahaan. Ia mengatakan pula bahwa ia terlah memikirkan hal ini masak-masak sebelumnya. Ia telah mempersiapkan tabungan untuk berjaga-jaga pada tahun-tahun awal. Menurutnya sebagai seorang suami yang bertanggung jawab, ia sangat ingin meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Namun di lain pihak, istrinya lebih menginginkan keamanan secara finansial, karena dengan pekerjaan suaminya yang sekarang mereka selalu mendapatkan gaji setiap bulannya.
Saya mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan anggapan istrinya. Kepada si suami saya memberitahukan bahwa pernyataan istrinya yang lebih mengutamakan keamanan sebenarnya dapat diartikan “memiliki “tabungan” yang dapat menjamin masa depan”. Dengan demikian ia dapat berkata pula pada istrinya bahwa niatannya untuk membangun perusahaan bersama teman-temannya adalah “usahanya untuk membuat “tabungan” untuk masa depan”. Sehingga kini kedua makna tersebut dapat lebih selaras satu sama lain, ketika:
- Kemanan; diartikan memiliki “tabungan” untuk masa depan
- Membangun perusahaan; diartikan membuat “tabungan” untuk masa depan
Anda pun dapat pula menggunakan pola yang sama untuk mengatasi konflik. Filosofi utamanya adalah membuat berbagai makna yang berbeda menjadi lebih selaras satu sama lain. Memang hal ini tidak mudah karena membutuhkan pemikiran dan kesabaran. Namun saya jaminkan kepada anda bahwa dengan melakukan hal ini anda akan selalu mendapatkan berbagai pelajaran berguna dari konflik yang “dirawat”.
Akhirnya, saya ucapkan “selamat merawat konflik di kehidupan”.